Palestina, sebuah nama yang mampu membangkitkan emosi mendalam bagi banyak orang di seluruh dunia. Wilayah kecil di jantung Timur Tengah ini menyimpan sejarah panjang yang membentang lebih dari lima milenium. Memahami sejarah Palestina bukan hanya tentang menelusuri rangkaian peristiwa masa lalu, tetapi juga tentang mengerti akar konflik yang terus berlangsung hingga hari ini. Sejarah Palestina adalah kisah tentang peradaban, keyakinan, perjuangan, dan ketahanan.
Artikel ini akan mengajak Anda menyelami perjalanan sejarah Palestina dari zaman kuno hingga era modern. Kita akan menelusuri bagaimana wilayah yang dianggap suci oleh tiga agama besar ini menjadi saksi bisu kebangkitan dan keruntuhan berbagai imperium, serta bagaimana penduduk aslinya terus berjuang mempertahankan identitas dan tanah air mereka.
Asal Usul Nama dan Peradaban Awal Palestina
Nama “Palestina” memiliki akar sejarah yang dalam. Banyak ahli percaya bahwa nama ini berasal dari kata “Philistia,” yang merujuk pada bangsa Filistin yang mendiami wilayah pesisir selatan Kanaan sekitar abad ke-12 SM . Sejarawan Yunani kuno Herodotus pada abad ke-5 SM menggunakan kata “Palaistine” untuk merujuk pada wilayah pesisir yang dihuni oleh orang Filistin tersebut .
Namun, jauh sebelum bangsa Filistin tiba, sejarah Palestina telah dimulai dengan bangsa Kanaan. Mereka adalah penduduk asli pertama yang menetap di wilayah ini sekitar tahun 3000 SM . Bangsa Kanaan datang dari Jazirah Arab dan membangun peradaban awal di tanah yang kemudian mereka sebut sebagai “Tanah Kanaan” . Letak geografis Palestina yang strategis, berada di persimpangan antara Afrika dan Asia, menjadikannya jalur perdagangan penting dan rebutan berbagai kekuatan besar sepanjang sejarah .
Pengaruh Romawi dan Perubahan Nama
Salah satu momen penting dalam sejarah Palestina terjadi pada abad ke-2 Masehi. Setelah berhasil menghancurkan pemberontakan Yahudi yang dipimpin Simon Bar Kokhba pada tahun 135 M, Kaisar Romawi Hadrian mengambil langkah drastis. Untuk memutus hubungan orang Yahudi dengan tanah leluhur mereka, ia mengubah nama provinsi Yudea menjadi “Suriah Palaestina” . Nama ini diambil dari musuh kuno orang Yahudi, yaitu bangsa Filistin, sebagai upaya untuk menghapus identitas Yahudi dari wilayah tersebut. Langkah ini menjadi titik balik dalam sejarah Palestina, karena nama itu kemudian melekat dan digunakan selama berabad-abad.
Palestina di Bawah Kekuasaan Islam
Babak baru dalam sejarah Palestina dimulai pada tahun 637 M, tepatnya pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab. Pasukan Islam berhasil menaklukkan Yerusalem dari Kekaisaran Romawi Timur (Bizantium) setelah pertempuran sengit di Ajnadain . Penaklukan ini berlangsung relatif damai, dan Khalifah Umar menjamin keamanan penduduk Kristen serta tempat-tempat suci mereka.
Sejak saat itu, sejarah Palestina memasuki era keemasan di bawah kekuasaan Islam. Yerusalem menjadi kota suci ketiga dalam Islam setelah Mekah dan Madinah, karena merupakan kiblat pertama umat Islam dan tempat Rasulullah SAW melakukan perjalanan Isra dan Mi’raj . Khalifah Umar bin Khattab sendiri yang membersihkan lokasi Masjid Al-Aqsha dan membangun masjid sederhana di sana.
Masa Keemasan di Bawah Dinasti-Dinasti Islam
Sepanjang sejarah Palestina, berbagai dinasti Islam silih berganti memerintah wilayah ini. Setelah masa Khulafaur Rasyidin, Palestina berada di bawah kekuasaan Bani Umayyah, kemudian Bani Abbasiyah, dan dilanjutkan oleh Dinasti Fatimiyah .
Salah satu tokoh paling terkenal dalam sejarah Palestina adalah Shalahuddin Al-Ayyubi. Pada tahun 1187 M, ia berhasil merebut kembali Yerusalem dari tangan Tentara Salib yang telah mendudukinya selama hampir 90 tahun . Kemenangan gemilang Shalahuddin dalam Pertempuran Hittin menjadi simbol kebangkitan umat Islam dan membuktikan bahwa sejarah Palestina tidak bisa lepas dari perjuangan mempertahankan tanah suci dari invasi asing.
Era Ottoman: Empat Abad Stabilitas
Dari tahun 1517 hingga 1917, sejarah Palestina berada di bawah kekuasaan Kesultanan Ottoman (Turki Usmani) . Selama empat abad ini, wilayah Palestina menikmati stabilitas yang relatif dan kehidupan yang damai di antara berbagai komunitas agama.
Di bawah pemerintahan Ottoman, sejarah Palestina ditandai dengan pembangunan infrastruktur, perkembangan seni lokal, dan kehidupan beragama yang toleran. Ottoman meninggalkan warisan arsitektur yang masih dapat kita saksikan hingga kini di kota-kota tua Yerusalem, Hebron, dan Nablus . Masa ini menjadi periode penting yang membentuk karakter masyarakat Palestina modern.
Mandat Inggris dan Deklarasi Balfour
Perang Dunia I (1914-1918) menjadi titik balik dramatis dalam sejarah Palestina. Kekaisaran Ottoman yang kalah perang terpaksa menyerahkan wilayahnya kepada negara-negara pemenang. Palestina kemudian jatuh ke tangan Inggris melalui mandat yang diberikan Liga Bangsa-Bangsa pada tahun 1923 .
Sebelum mandat resmi dimulai, Inggris telah mengeluarkan Deklarasi Balfour pada 2 November 1917. Deklarasi ini hanya berisi 67 kata, namun dampaknya terhadap sejarah Palestina sangatlah besar . Dalam surat tersebut, Menteri Luar Negeri Inggris Arthur Balfour menyatakan dukungan pemerintah Inggris untuk “pendirian tanah air nasional bagi orang-orang Yahudi di Palestina” .
Padahal saat itu, populasi Arab Palestina mencapai lebih dari 90 persen. Inggris kemudian mendorong imigrasi besar-besaran orang Yahudi ke Palestina, terutama setelah munculnya gerakan Nazi di Eropa . Imigrasi ini memicu perlawanan dari warga Palestina yang khawatir terhadap perubahan demografis dan penyitaan tanah mereka. Puncaknya adalah Pemberontakan Arab tahun 1936-1939, yang ditumpas keras oleh Inggris dengan bantuan pasukan bersenjata Yahudi .
Rencana Pembagian PBB dan Penolakan Arab
Setelah Perang Dunia II, tekanan internasional untuk menyelesaikan masalah Palestina semakin kuat. Pada tahun 1947, Perserikatan Bangsa-Bangsa mengeluarkan Resolusi 181 yang mengusulkan pembagian wilayah Palestina menjadi dua negara: satu negara Arab dan satu negara Yahudi .
Rencana ini jelas tidak adil bagi penduduk asli. Saat itu, populasi Yahudi hanya sekitar 33 persen dan mereka hanya menguasai 6 persen tanah, namun PBB memberikan sekitar 56 persen wilayah Palestina, termasuk sebagian besar wilayah pesisir yang subur, kepada negara Yahudi . Para pemimpin Yahudi menerima rencana ini, tetapi orang Arab Palestina dan negara-negara Arab menolaknya dengan keras. Mereka berargumen bahwa penduduk mayoritas berhak atas lebih banyak wilayah .
Nakba: Bencana 1948
Tanggal 14 Mei 1948 menjadi hari kelabu dalam sejarah Palestina. Inggris secara resmi menarik diri dari Palestina, dan hari itu juga David Ben-Gurion mendeklarasikan berdirinya negara Israel . Amerika Serikat segera mengakui negara baru tersebut.
Sehari setelah deklarasi Israel, pasukan dari negara-negara Arab (Mesir, Yordania, Suriah, Irak, dan Lebanon) masuk ke Palestina untuk mencegah berdirinya negara Israel. Perang Arab-Israel 1948 pun pecah .
Perang ini berakhir pada Juli 1949 dengan kekalahan di pihak Arab. Israel berhasil menguasai lebih dari 78 persen wilayah Palestina yang lebih luas, jauh melebihi apa yang diberikan dalam Rencana Pembagian PBB . Yang lebih tragis, sejarah Palestina mencatat peristiwa yang disebut “Nakba” atau “bencana.” Sekitar 750.000 hingga 800.000 warga Palestina diusir atau melarikan diri dari rumah mereka . Lebih dari 500 desa dan kota Palestina dihancurkan .
Mereka menjadi pengungsi di tanah mereka sendiri, tersebar di Tepi Barat, Jalur Gaza, Yordania, Suriah, dan Lebanon. Sementara itu, Yordania menguasai Tepi Barat dan Yerusalem Timur, dan Mesir menguasai Jalur Gaza .
Pendudukan dan Perlawanan: 1967 hingga Intifada
Babak baru dalam sejarah Palestina dimulai pada 5 Juni 1967, ketika Israel melancarkan Perang Enam Hari. Dalam waktu singkat, Israel berhasil menduduki sisa wilayah Palestina, termasuk Tepi Barat, Yerusalem Timur, dan Jalur Gaza, serta Dataran Tinggi Golan Suriah dan Semenanjung Sinai Mesir . Peristiwa ini disebut “Naksa” atau “kemunduran” oleh bangsa Arab.
Sejak saat itu, sejarah Palestina diwarnai oleh pendudukan militer Israel. Ratusan ribu warga Palestina kembali terusir. Israel mulai membangun permukiman Yahudi di wilayah pendudukan, yang dianggap ilegal menurut hukum internasional . Warga Palestina hidup dengan pembatasan ketat, pos pemeriksaan, dan tekanan ekonomi.
Lahirnya Organisasi Pembebasan Palestina
Di tengah pendudukan, perlawanan terus tumbuh. Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) yang didirikan tahun 1964 menjadi payung perjuangan rakyat Palestina . Yasser Arafat terpilih sebagai ketua PLO pada tahun 1969 dan memimpin perjuangan selama puluhan tahun .
Pada tahun 1987, sejarah Palestina mencatat Intifada pertama, atau pemberontakan rakyat. Dimulai dari Jalur Gaza, perlawanan dengan lemparan batu oleh pemuda Palestina melawan tank Israel menyebar ke seluruh wilayah pendudukan . Intifada ini juga melahirkan Hamas sebagai gerakan perlawanan Islam .
Perjanjian Oslo dan Kebuntuan
Intifada pertama berakhir dengan penandatanganan Perjanjian Oslo pada tahun 1993. Perjanjian ini menjadi tonggak penting dalam sejarah Palestina modern. PLO dan Israel saling mengakui, dan Otoritas Palestina (PA) dibentuk sebagai pemerintahan sementara di Tepi Barat dan Gaza . Namun, perjanjian ini gagal mewujudkan kemerdekaan Palestina yang sesungguhnya. Permukiman Israel terus meluas, dan masalah status Yerusalem, pengungsi, serta perbatasan tidak terselesaikan.
Intifada Kedua meletus pada tahun 2000, dipicu oleh kunjungan provokatif Ariel Sharon ke kompleks Masjid Al-Aqsha . Pemberontakan ini berlangsung lebih keras dan menimbulkan banyak korban jiwa di kedua belah pihak. Infrastruktur Palestina hancur, dan Israel kembali menduduki wilayah-wilayah yang sebelumnya diserahkan kepada Otoritas Palestina .
Palestina Kontemporer: Antara Perpecahan dan Blokade
Sejarah Palestina di abad ke-21 diwarnai oleh dinamika internal dan eksternal yang kompleks. Setelah kematian Yasser Arafat pada tahun 2004, Hamas memenangkan pemilihan umum di Palestina tahun 2006. Hal ini memicu konflik dengan Fatah yang berujung pada perpecahan: Hamas menguasai Jalur Gaza dan Fatah menguasai Tepi Barat .
Israel merespons kemenangan Hamas dengan memberlakukan blokade ketat terhadap Jalur Gaza sejak tahun 2007 . Blokade ini menciptakan krisis kemanusiaan yang parah bagi lebih dari dua juta warga Gaza yang hidup dalam kondisi kekurangan pangan, air bersih, dan layanan kesehatan memadai .
Agresi Militer Berulang ke Gaza
Sejak 2008, sejarah Palestina di Gaza diwarnai oleh serangan militer besar-besaran Israel secara berulang: tahun 2008-2009 (Operasi Cast Lead), 2012, 2014, 2021, dan yang terbaru dimulai pada Oktober 2023 . Serangan-serangan ini menewaskan puluhan ribu warga sipil Palestina, mayoritas wanita dan anak-anak, serta menghancurkan infrastruktur, rumah sakit, dan sekolah .
Mahkamah Internasional (ICJ) pada Juli 2024 mengeluarkan pendapat hukum yang menyatakan bahwa pendudukan Israel atas wilayah Palestina adalah ilegal dan melanggar hukum internasional . Namun, keputusan ini tidak mengikat dan Israel terus melanjutkan kebijakannya.
Harapan dan Jalan ke Depan
Meskipun penderitaan terus berlanjut, semangat rakyat Palestina tidak pernah padam. Sejarah Palestina adalah sejarah tentang ketahanan. Upaya rekonsiliasi antar faksi Palestina terus dilakukan. Pada Juli 2024, China mempertemukan 14 faksi Palestina di Beijing, menghasilkan Deklarasi Beijing yang menyepakati persatuan nasional dan pembentukan pemerintahan sementara untuk rekonstruksi Gaza .
Solusi dua negara dengan pendirian negara Palestina merdeka di perbatasan 1967 dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya masih menjadi konsensus internasional . Lebih dari 135 negara anggota PBB telah mengakui negara Palestina . Pengakuan dari negara-negara Eropa seperti Irlandia, Slovenia, dan Spanyol terus bertambah, memberi harapan baru bagi perjuangan diplomasi Palestina .
Kesimpulan
Perjalanan sejarah Palestina dari bangsa Kanaan hingga era modern adalah kisah yang belum usai. Wilayah yang telah menjadi saksi kebangkitan dan keruntuhan berbagai imperium ini kini masih bergulat dengan pendudukan dan perampasan hak. Namun, di balik penderitaan, ada ketahanan yang luar biasa dari rakyatnya.
Sejarah mengajarkan kita bahwa Palestina bukan hanya tanah sengketa, melainkan rumah bagi manusia-manusia yang memiliki hak untuk hidup merdeka dan bermartabat. Memahami sejarah Palestina berarti memahami akar ketidakadilan yang masih berlangsung, dan juga memahami harapan yang tak pernah padam untuk masa depan yang lebih adil.
Sebagaimana doa yang selalu dipanjatkan untuk saudara-saudara kita di Palestina, semoga Allah melindungi mereka, memberi kekuatan, dan membawa keadilan serta perdamaian ke tanah mereka . Sejarah Palestina adalah sejarah tentang ketahanan, keimanan, dan perlawanan. Masa depan Palestina, seperti masa lalunya, akan terus ditulis oleh perjuangan rakyatnya untuk meraih kebebasan.







Leave a Reply