PWI JATIM – Pergerakan cepat militer Amerika Serikat di Timur Tengah membuat opsi serangan terhadap Iran kini terbuka lebar bagi Presiden AS Donald Trump. Sejumlah pejabat Gedung Putih dan Pentagon menyebutkan, serangan bisa dilakukan paling cepat akhir pekan ini. Namun hingga kini, Trump belum memberi sinyal keputusan final.
Di tengah peningkatan kekuatan militer itu, jalur diplomasi antara Washington dan Teheran masih berlangsung meski penuh ketidakpastian. Pengerahan pasukan AS terus berlanjut, bahkan saat pembicaraan tidak langsung antara kedua negara digelar di Jenewa pada Selasa lalu. Iran meminta waktu dua pekan untuk menyusun proposal yang lebih rinci guna mencari solusi diplomatik.
Trump berulang kali menuntut agar Iran menghentikan program nuklirnya, termasuk setuju untuk tidak lagi memperkaya uranium. Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mendorong langkah tegas untuk melemahkan kemampuan Iran meluncurkan rudal ke wilayah Israel. Dua pejabat pertahanan Israel mengatakan persiapan signifikan tengah dilakukan untuk kemungkinan serangan gabungan dengan AS, meski belum ada keputusan final. Perencanaan tersebut membayangkan serangan keras selama beberapa hari untuk memaksa Iran membuat konsesi di meja perundingan yang sejauh ini enggan diberikan.
Pengerahan Militer Terbesar dalam Dua Dekade
Penumpukan kekuatan militer AS kini mencapai skala yang belum pernah terjadi sejak Perang Irak 2003. Washington telah mengerahkan lebih dari 150 pesawat tempur tambahan ke kawasan, termasuk puluhan jet tempur siluman F-35, F-22 Raptor, serta F-15 dan F-16 .
Berdasarkan data pelacakan penerbangan, pesawat-pesawat tersebut ditempatkan di sejumlah pangkalan strategis, termasuk Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Yordania yang kini menampung lebih dari 60 pesawat tempur AS . Selain itu, Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar dan Pangkalan Udara Pangeran Sultan di Arab Saudi juga menjadi basis utama penguatan militer AS .
Dari data intelijen sumber terbuka, sejak awal Januari tercatat sekitar 270 penerbangan logistik C-17 dan C-5 menuju kawasan Komando Pusat AS (CENTCOM) . Lebih dari 85 pesawat tanker pengisian bahan bakar juga dikerahkan untuk mendukung operasi udara jarak jauh .
Di laut, dua kelompok kapal induk raksasa kini bersiaga di kawasan. Kapal induk USS Gerald R Ford, yang sebelumnya bertugas di Karibia, dilaporkan mendekati Gibraltar pada Rabu sebelum bergabung dengan kapal induk USS Abraham Lincoln di Timur Tengah . Kedua kapal induk ini membawa hampir 80 pesawat masing-masing, termasuk jet F/A-18 dan F-35, serta dikawal oleh kapal perusak, kapal penjelajah, dan kapal selam pendamping .
Sistem pertahanan udara Patriot dan THAAD juga telah dipindahkan ke kawasan untuk mengantisipasi serangan balasan rudal balistik Iran . Seorang pejabat militer mengatakan AS kini mampu melindungi pasukan, sekutu, dan asetnya dari kemungkinan serangan balasan Iran, setidaknya untuk kampanye jangka pendek. Namun ia mempertanyakan kesiapan militer AS jika konflik meluas dan berlangsung lama.
Peringatan Pentagon: Risiko Korban dan Ketahanan Logistik
Di balik pengerahan besar-besaran tersebut, sejumlah pejabat tinggi Pentagon justru menyuarakan kekhawatiran. Jenderal Dan Caine, Ketua Kepala Staf Gabungan AS, telah berulang kali memperingatkan Trump tentang risiko serangan berkepanjangan terhadap Iran .
Menurut laporan Wall Street Journal, pejabat pertahanan AS menyoroti potensi korban jiwa di pihak Amerika dan sekutu, serta menipisnya stok amunisi pertahanan udara. Sistem Patriot, THAAD, dan SM-3 yang saat ini digelar di Timur Tengah dikhawatirkan akan terkuras habis jika operasi berlangsung lama. Hal ini dapat mengganggu kesiapan AS menghadapi potensi konflik di kawasan lain, seperti Asia Timur .
Analisis intelijen Israel bahkan memperkirakan AS hanya mampu melancarkan serangan udara intensif selama empat hingga lima hari. Jika intensitas diturunkan, operasi maksimal bisa bertahan hingga sepekan . Keterbatasan ini disebabkan oleh jarak operasi yang jauh, luasnya wilayah Iran dengan target tersebar, serta kebutuhan pengisian bahan bakar di udara yang membatasi tempo serangan .
Iran sendiri telah mengancam akan membalas dengan rudal balistik dan memobilisasi kelompok proksinya di kawasan jika diserang. Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, baru-baru ini memperingatkan bahwa pasukan Iran dapat menargetkan kapal perang AS .
Diplomasi di Ambang Batas
Meskipun perang mengancam, kedua belah pihak masih membuka pintu diplomasi. Putaran lanjutan pembicaraan nuklir tidak langsung antara AS dan Iran dijadwalkan berlangsung di Jenewa pada Kamis (26/2/2026), dengan mediasi Oman .
Delegasi Iran dipimpin Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, sementara AS mengirim utusan khusus Steve Witkoff dan penasihat Trump, Jared Kushner . Dalam pertemuan sebelumnya di Muscat, kedua pihak sama-sama memberikan penilaian positif, namun pejabat AS mengakui kesenjangan posisi masih lebar .
Tuntutan Iran dalam negosiasi ini mencakup pencabutan total sanksi dan pembahasan langkah-langkah membangun kepercayaan terkait program nuklirnya . Iran menegaskan haknya atas teknologi nuklir untuk tujuan sipil dan membantah ambisi militer . Sementara itu, negara-negara Barat mencurigai Teheran berupaya memperoleh senjata nuklir .
Di tengah negosiasi, Iran juga menggelar latihan perang di pantai selatan Teluk Persia yang melibatkan drone, kapal, rudal darat-ke-laut, dan pasukan khusus. Komandan Pasukan Darat IRGC, Mohammad Karami, menyatakan latihan tersebut dilakukan “berdasarkan ancaman yang ada” .
Tekanan Politik dan Respons Publik
Di dalam negeri AS, ancaman perang dengan Iran menuai kritik. Senator Andy Kim dari New Jersey menyatakan publik Amerika tidak menginginkan konflik baru. Ia menulis di platform X, “Pekan lalu saya bertanya kepada warga New Jersey apakah mereka ingin menyerang Iran? Tak satu pun menjawab ya” .
Kim juga mengkritik pendekatan pemerintahan Trump, “Apa yang akan diperoleh dari perang dengan Iran? Apakah itu akan membuat Anda lebih aman? Apakah itu akan mempermudah membayar tagihan? Trump menyeret negara kita ke ambang perang tanpa alasan, tanpa rencana, dan tanpa mempedulikan Anda” .
Sementara itu, pesawat militer AS terus berdatangan. Dua pesawat tanker KC-135 dan pesawat angkut C-17 Globemaster terlihat mendarat di Bandara Ben Gurion, Tel Aviv, Israel . Pihak Israel belum memberikan keterangan resmi terkait tujuan pesawat tersebut, namun langkah ini semakin memperkuat sinyal kesiapan militer AS di kawasan.
Dengan kekuatan militer yang mengesankan namun keterbatasan logistik yang nyata, serta diplomasi yang masih berjalan di ambang kegagalan, Trump kini berada di persimpangan jalan. Keputusan final ada di tangannya—apakah akan meluncurkan serangan atau memberi kesempatan terakhir bagi diplomasi. (***)










Leave a Reply