PWI JATIM – Ketegangan kembali melanda wilayah perbatasan Thailand-Kamboja setelah terjadi insiden baku tembak antara militer kedua negara pada Selasa pagi (24/2/2026). Bangkok menuding Phnom Penh telah melanggar kesepakatan gencatan senjata yang baru ditandatangani pada Desember tahun lalu, sekaligus menjadi ujian pertama bagi perdamaian yang sempat meredam konflik mematikan di akhir 2025.
Militer Thailand mengeluarkan pernyataan resmi yang menyebut bahwa insiden dipicu oleh tembakan dari pihak Kamboja. “Pasukan Kamboja melepaskan satu butir granat 40 mm di dekat patroli Thailand di provinsi perbatasan Sisaket pada Selasa pagi,” demikian bunyi pernyataan militer Thailand, yang memicu respons balasan dari pihak Thailand .
Juru bicara militer Thailand, Winthai Suvaree, menjelaskan bahwa pasukan Thailand merespons dengan menembakkan satu butir granat dari peluncur M79 ke arah asal tembakan. Tindakan ini dilakukan sesuai aturan pelibatan, sebagai bentuk peringatan dan pembelaan diri, dan dilaporkan tidak menimbulkan korban jiwa dari pihak Thailand .
Pihak Thailand menilai tindakan Kamboja telah melanggar perjanjian gencatan senjata yang disepakati bersama. Dalam penilaian awal, militer Thailand menduga insiden ini mungkin disebabkan oleh rotasi pasukan di pihak Kamboja. “Personel baru kurang memahami peraturan dan kendali komando, sehingga mengakibatkan kekurangan operasional,” demikian kutipan pernyataan militer Thailand .
Kamboja Bantah Keras Tuduhan
Namun, di sisi lain, Pemerintah Kamboja dengan tegas membantah tuduhan tersebut. Menteri Informasi Kamboja, Neth Pheaktra, menyebut klaim dari Thailand sebagai sesuatu yang tidak benar dan provokatif.
“Klaim-klaim ini sepenuhnya salah, dibuat-buat, dan sangat memutarbalikkan fakta dengan niat sengaja untuk menyesatkan opini publik dan memicu ketegangan di sepanjang perbatasan Kamboja-Thailand,” tegas Neth Pheaktra dalam pernyataannya, Selasa .
Phnom Penh menegaskan kembali komitmennya yang teguh terhadap gencatan senjata yang telah disepakati pada Desember lalu. Kamboja juga menyatakan keprihatinannya karena tuduhan sepihak tersebut dilayangkan tanpa verifikasi bersama. “Hal ini berisiko memberikan gambaran yang salah tentang situasi di lapangan dan merusak kepercayaan bersama,” ujar Neth Pheaktra . Sementara itu, Juru bicara Kementerian Pertahanan Kamboja, Maly Socheata, menolak memberikan komentar lebih lanjut saat dimintai konfirmasi .
Luka Lama Perbatasan
Insiden ini menjadi pengingat akan konflik berkepanjangan antara kedua negara tetangga. Perselisihan perbatasan yang telah berlangsung selama lebih dari satu abad ini berakar pada perbedaan interpretasi penetapan batas wilayah sepanjang 800 kilometer (500 mil) yang ditetapkan pada era kolonial Prancis .
Tahun lalu, kawasan perbatasan ini menjadi medan pertempuran terbuka. Beberapa kali bentrokan pecah, menewaskan puluhan orang, termasuk tentara dan warga sipil, serta menyebabkan lebih dari satu juta orang mengungsi .
Hingga berita ini diturunkan, situasi di perbatasan dilaporkan dalam status siaga tinggi, meskipun belum ada laporan mengenai peningkatan aktivitas militer lebih lanjut pasca-insiden. (***)










Leave a Reply