PWI JATIM – Akses utama wisata menuju kawasan Pusuk Sembalun, gerbang pendakian ikonis Gunung Rinjani, terputus akibat bencana tanah longsor pada Minggu (8/2/2026). Bencana yang dipicu hujan lebat ini terjadi sekitar pukul 13.00 Wita, mengakibatkan material tanah dan batuan menutupi badan jalan sepanjang 10 meter.
Berdasarkan laporan Pusdalops Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB, longsoran dengan ketebalan material antara 0,5 hingga 1,5 meter itu masih menutupi jalan hingga berita ini diturunkan. “Material longsor menutupi badan jalan sepanjang 10 meter,” konfirmasi Kepala Pelaksana BPBD NTB, Sadimin.
Tim Gabungan Dikerahkan, Alat Berat Jadi Kebutuhan Mendesak
Tim gabungan yang terdiri dari personel BPBD Lombok Timur, TNI/Polri, serta perangkat kecamatan dan desa setempat telah diterjunkan ke lokasi untuk melakukan penanganan darurat. Namun, upaya pembersihan menghadapi kendala besar akibat volume material yang cukup signifikan.
“Kebutuhan mendesak saat ini adalah alat berat untuk pembersihan material yang menutupi jalan,” tegas Sadimin. Kehadiran alat berat dinilai penting untuk mempercepat proses normalisasi akses transportasi ke kawasan wisata dan permukiman di sekitarnya.
BPBD Ingatkan Masyarakat Waspadai Cuaca Ekstrem
Insiden ini menjadi pengingat serius akan ancaman bencana hidrometeorologis di masa puncak musim hujan. Sadimin mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat memicu bencana lanjutan seperti angin kencang, banjir, dan tanah longsor.
“Adanya potensi hujan dengan intensitas tinggi di dasarian I Februari 2026, masyarakat harus mewaspadai potensi kejadian cuaca ekstrem yang dapat memicu bencana hidrometeorologis,” tukasnya. Wilayah NTB saat ini sebagian telah memasuki periode puncak musim penghujan yang berpotensi meningkatkan kerentanan bencana alam.
Dampak pada Sektor Pariwisata
Pusuk Sembalun merupakan salah satu titik awal pendakian Gunung Rinjani dan kawasan wisata dengan pemandangan savana yang terkenal. Penutupan akses jalan ini diperkirakan akan mengganggu aktivitas pariwisata dan logistik di kawasan tersebut hingga proses pembersihan tuntas. Para calon pendaki dan operator wisata diimbau untuk mencari informasi terbaru mengenai kondisi jalan sebelum melakukan perjalanan. (***)










Leave a Reply