PWI JATIM – Bencana banjir bandang menerjang lima kecamatan di Kabupaten Situbondo pada Rabu (21/1/2026), mengakibatkan sebanyak 6.155 rumah warga terendam air dan material lumpur. Meski tidak menelan korban jiwa, bencana ini menyisakan pekerjaan berat bagi warga yang sejak Kamis pagi (22/1/2026) bergotong royong membersihkan rumah dan lingkungan mereka.
Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Situbondo, kelima kecamatan terdampak adalah Besuki, Banyuglugur, Mlandingan, Bungatan, dan Kendit. Kecamatan Besuki menjadi wilayah yang paling parah dengan 3.015 rumah terdampak.
“Total ada 6.155 rumah yang terdampak banjir, terbanyak di Besuki yakni 3.015 rumah,” jelas Kalaksana BPBD Situbondo, Timbul Surjanto.
Warga Terpaksa Tidur di Kursi, Harapkan Cuaca Cerah
Dampak langsung dirasakan warga seperti Rahman (30), seorang warga Desa Besuki. Ia mengungkapkan kesulitan membersihkan rumahnya karena air banjir yang lama surut dan membawa lumpur dalam volume besar.
“Untuk tahun ini lumpur yang banyak, kemarin itu memang hujan terjadi sejak siang sampai malam,” ujar Rahman, Kamis (22/1/2026).
Meski mengklaim tidak mengalami kerugian material besar, kehidupan sehari-hari keluarganya terusik. Barang-barang rumah tangga basah, termasuk kasur dan selimut, memaksa mereka untuk tidur di kursi semalaman.
“Kasur dan selimut rumah basah sehingga harus dijemur untuk kering. Sejak pagi mendung, semoga tidak hujan lagi karena bisa banjir kembali,” harap Rahman dengan cemas. Kekhawatiran akan banjir susulan masih menghantui, sementara aktivitas warga juga terhambat karena banyak jalan yang masih tertutup lumpur.
Penyebab Diduga Cuaca Ekstrem, Peringatan Waspada
BPBD Situbondo sementara ini menyimpulkan bahwa banjir bandang dipicu oleh cuaca ekstrem yang menyebabkan sungai-sungai di wilayah tersebut meluap dengan cepat.
“Tidak ada korban luka atau jiwa akibat dampak banjir bandang,” tegas Timbul Surjanto. Meski demikian, pihaknya mengimbau masyarakat untuk tetap meningkatkan kewaspadaan.
“Hati-hati dan waspada ketika hujan mulai turun,” pesannya.
Pasca banjir surut, fokus pemerintah daerah dan warga kini beralih ke fase pemulihan. Gotong royong membersihkan lumpur dan menata kembali barang-barang yang rusak menjadi pemandangan umum di seantero wilayah terdampak. Tantangan selanjutnya adalah mengembalikan normalitas kehidupan serta mengantisipasi potensi bencana serupa di masa mendatang. (***)










Leave a Reply