PWI JATIM – Gelombang pemain diaspora Timnas Indonesia yang pulang kampung untuk bermain di BRI Liga 1 semakin deras. Setelah kedatangan Eliano Reijnders, Thom Haye, Rafael Struick, dan Jordi Amat, kini kabar panas beredar mengenai Ivar Jenner. Gelandang berdarah Belanda-Indonesia itu disebut-sebut sangat dekat dengan Persija Jakarta dan bakal segera diumumkan sebagai rekrutan anyar Macan Kemayoran.
Namun, di tengah euforia menyambut pemain nasional, muncul pertanyaan kritis dari pengamat: Apakah Ivar Jenner benar-benar pemain yang dibutuhkan Persija Jakarta?
Kebutuhan yang Tidak Tepat Sasaran?
Melihat komposisi skuad saat ini, kebutuhan utama Persija justru ada di posisi playmaker atau classic number 10. Posisi itu kini kosong setelah mereka melepas Gustavo Franca ke Arema FC. Kehadiran Jenner, yang lebih banyak beroperasi sebagai gelandang tengah dengan karakter box-to-box, dinilai tidak serta-merta menutupi lubang yang ditinggalkan Franca.
“Secara karakter permainan, Ivar Jenner memiliki kemiripan dengan para gelandang Persija Jakarta saat ini seperti Fabio Calonego atau Van Basty Sousa,” ujar seorang analis sepak bola yang enggan disebutkan namanya. Persaingan di lini tengah Persija sudah sangat ketat dengan duo Calonego dan Van Basty yang sulit digeser. Alih-alih menjadi starter, Jenner justru berisiko hanya menjadi penghangat bangku cadangan yang mahal.
Insentif Regulasi U-23: Sisi Lain yang Menguntungkan
Di balik tanda tanya kebutuhan teknis, ada satu aspek pragmatis yang mungkin menjadi pertimbangan manajemen Persija: regulasi pemain U-23. Aturan BRI Liga 1 mewajibkan setiap tim memainkan pemain U-23 minimal 45 menit per pertandingan.
Di sinilah Jenner, yang masih berusia 23 tahun, menjadi aset berharga. Saat ini, kuota U-23 Persija diisi secara bergantian oleh pemain muda seperti Dony Tri Pamungkas, Rayhan Hannan, Figo Dennis, atau Arlyansyah Abdulmanan. Kehadiran Jenner, dengan kualitas dan pengalaman level Timnas, memberikan opsi yang jauh lebih siap dan kompetitif untuk memenuhi aturan itu tanpa harus menurunkan kualitas permainan secara signifikan.
Analisis: Antara Strategi Jangka Pendek dan Visi Jangka Panjang
Jika transfer ini benar terjadi, langkah Persija bisa dibaca dalam dua sudut pandang. Di satu sisi, ini bisa dilihat sebagai keputusan pragmatis untuk mematuhi regulasi dengan aman sekaligus menambah kedalaman skuad. Nama besar Jenner juga pasti menjadi magnet bagi publik.
Namun, di sisi lain, ini mengundang kritik. Alih-alih merekrut pemain yang secara spesifik menjawab kebutuhan di posisi playmaker, Persija justru mengumpulkan pemain dengan profil serupa di lini tengah. Ini memunculkan pertanyaan tentang perencanaan skuad yang matang.
“Kehadiran Ivar Jenner adalah berita bagus untuk branding, tetapi belum tentu untuk keseimbangan taktik tim,” komentar seorang pengamat. Publik Persija kini menunggu kejelasan: apakah Jenner akan menjadi pilihan strategis pelatih, atau sekadar pemain mahal yang terpenjara di bangku cadangan? Jawabannya akan terungkap di lapangan hijau. (***)










Leave a Reply