PWI JATIM – Pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) dengan nomor registrasi PK-THT dinyatakan jatuh di area pegunungan karst Gunung Bulusaraung, perbatasan Kabupaten Maros dan Pangkep, Sulawesi Selatan. Kronologi bencana udara ini semakin tragis setelah pihak maskapai mengungkap fakta baru: pesawat tersebut sempat mengalami kendala teknis mesin sehari sebelum hilang kontak.
Dalam konferensi pers di Media Center Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Direktur Operasional IAT, Capt Edwin, mengakui adanya masalah pada mesin pesawat yang terdeteksi pada Jumat (16/1). “Memang ada problem di engineering kami, tapi kami sudah tes. Problem kecil, tapi kami sudah perbaiki hari Jumat,” ujar Edwin, seperti dikutip dari data lapangan.
Pernyataan ini muncul setelah Tim SAR Gabungan menemukan titik terang pada Minggu (18/1) pagi. Serpihan besar pesawat ditemukan tersebar di kawasan ekstrem Gunung Bulusaraung. Penemuan dimulai dengan jendela pesawat pukul 07.46 WITA, disusul bagian badan pesawat berukuran besar tiga menit kemudian, dan bagian ekor di lereng bawah pada pukul 07.52 WITA.
Ditemukan Pasca Misi Patroli KKP
Pesawat turboprop yang dipiloti kapten senior Andy Dahananto (53) itu merupakan armada yang disewa oleh Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk misi patroli maritim. Pesawat hilang kontak dalam penerbangan dari Bandara Adisutjipto Yogyakarta menuju Bandara Sultan Hasanuddin Makassar, Sabtu (17/1).
Berdasarkan data Flightradar24.com, pesawat lepas landas dari Yogyakarta pukul 08.08 WIB. Sementara Flightaware.com mencatat titik terakhir pesawat terpantau pada pukul 12.22 WITA sebelum hilang dari radar. Pesawat mengangkut 10 orang, terdiri dari 7 awak pesawat dan 3 penumpang dari pihak KKP.
Daftar manifest menunjukkan awak pesawat adalah Capt Andy Dahananto (Pilot), SIC FO M Farhan Gunawan, FOO Hariadi, EOB Restu Adi P, EOB Dwi Murdiono, Flight Attendant Florencia Lolita, dan Flight Attendant Esther Aprilitas. Tiga penumpang dari KKP adalah Deden, Ferry, dan Yoga. Hingga berita ini diturunkan, belum ada informasi resmi mengenai kondisi para korban.
Temuan Serpihan Jadi Petunjuk Vital
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Kelas A Makassar, Muhammad Arif Anwar, menyatakan temuan serpihan menjadi petunjuk vital. “Temuan ini menjadi petunjuk vital untuk mempersempit area pencarian korban,” ujar Arif.
Pengakuan IAT tentang kendala teknis sehari sebelum kecelakaan dipastikan akan menjadi fokus utama investigasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Temuan awal Tim SAR di medan ekstrem Bulusaraung kini menjadi landasan operasi pencarian dan evakuasi korban yang diprediksi akan berlangsung sulit dan berisiko tinggi. (***)










Leave a Reply