PWI JATIM – Ribuan rumah di Desa Blega, Kecamatan Blega, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, terendam banjir akibat luapan sungai pada Sabtu dini hari. Genangan air yang mencapai ketinggian 20 hingga 120 sentimeter tidak hanya memasuki permukiman warga, tetapi juga menggenangi jalan raya utama, mengakibatkan kemacetan panjang dan sejumlah kendaraan mogok.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bangkalan, M Zainul Qomar, menyatakan banjir yang mulai merendam rumah warga sejak pukul 03.30 WIB ini meluas ke 11 kampung. “Saat ini ada 11 kampung yang terendam yakni di Planggaran, Karangkemasan, Laok Sungai, Klabengan, Sempar, Pekadan, Cangagan, Kauman, Bangtemoran, Paddag, Kampung Daya Sungai,” ujarnya.
Dari pemetaan dampak, lebih dari 1.600 kepala keluarga (KK) atau setara ribuan jiwa terdampak. Selain rumah penduduk, banjir juga melumpuhkan aktivitas publik dengan merendam sebuah kantor pegadaian, dua sekolah, dan ruas jalan utama. “Selain rumah, ada kantor pegadaian, dua sekolah dan jalan raya juga terendam banjir,” jelas Qomar.
Kondisi ini memicu kemacetan parah di Jalan Raya Blega, yang merupakan arteri penghubung utama antara Kabupaten Bangkalan dan Kabupaten Sampang. Banyak kendaraan, khususnya sepeda motor, terpaksa mogok setelah menerobos genangan yang dalam.
Menyiasati hal ini, warga setempat muncul dengan solusi darurat: jasa angkut menggunakan gerobak kayu. Seperti yang dialami oleh salah seorang pengendara, Indriyani Sukma. Khawatir motornya rusak, Yani memilih membayar Rp 75.000 untuk mengangkut motor dan dirinya sendiri melintasi banjir dengan gerobak. “Ini tadi saya pakai jasa angkut gerobak kayu, ongkosnya Rp 75 ribu dengan orangnya. Kalau motor saja Rp 50 ribu,” ucapnya.
Ia membenarkan bahwa banyak motor yang mogok di lokasi, sehingga ia memilih opsi yang dianggapnya lebih aman meski harus merogoh kocek dalam. “Banyak yang mogok tadi. Makanya, daripada motor saya rusak habis banyak, saya lebih baik naik gerobak dorong itu,” imbuh Yani.
Fenomena jasa gerobak darurat ini menjadi gambaran nyata dampak banjir yang melumpuhkan mobilitas warga dan memunculkan ekonomi darurat di tengah krisis. BPBD setempat bersama instansi terkait masih terus melakukan pemantauan dan penanganan terhadap wilayah yang terdampak, sementara warga berharap air segera surut agar aktivitas normal dapat kembali pulih. (***)










Leave a Reply