PWI JATIM – Kontroversi yang menyelimuti patung macan putih di Desa Balongjeruk, Kecamatan Kunjang, Kabupaten Kediri, berbalik menjadi berkah tak terduga. Gelombang kunjungan wisatawan yang penasaran justru memompa denyut ekonomi lokal dan melambungkan nama desa tersebut.
Kepala Desa Balongjeruk, Safi’i, mengaku menyambut positif fenomena ini. Titik lokasi patung yang sebelumnya sepi, kini menjelma menjadi pusat keramaian yang tak pernah sepi pengunjung. “Sekarang titik lokasi macannya sangat ramai pengunjungnya. Gak pagi, siang, bahkan malam ada saja yang datang,” ujar Safi’i pada Senin (29/12/2025).
Menurutnya, daya tarik utama para pengunjung adalah rasa penasaran terhadap patung berbahan semen yang viral karena bentuk anatominya yang dianggap unik dan tidak proporsional. Keinginan untuk berfoto selfie di lokasi menjadi magnet utama. “Kemarin itu ada yang dari wilayah Lumajang sana. Dari daerah lain juga banyak. Lalu mereka foto-foto selfie,” lanjutnya.
Dampak Ekonomi: Warung Kelapa Muda Kebanjiran Order
Geliat wisata dadakan ini memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi warga. Lokasi patung yang berada di persimpangan jalan—biasanya hanya tempat ‘kongkow’—kini ramai oleh pedagang kaki lima. “Di sana hari biasa gak sampai 5 pedagang kaki lima. Sekarang jumlahnya sudah lebih dari 20 pedagang dan semuanya laris,” papar Safi’i.
Salah satu yang merasakan langsung keberkahan ini adalah pedagang kelapa muda atau es degan. Kades menceritakan, pedagang yang biasanya hanya menjual sekitar 40 butir kelapa per hari, kini omzetnya melonjak drastis. “Tadi kebetulan saya habis beli es degan di situ. Itu pedagang kelapa sampai bilang makasih-makasih ke saya karena sekarang rame yang beli. Bisa sampai 150 butir kelapa habis,” tuturnya.
Patung yang sebelumnya menuai kritik dan candaan di media sosial karena wujudnya yang dianggap ‘jauh dari kesan gagah’ harimau, nyatanya justru menjadi ikon baru yang mendatangkan rezeki. Fenomena ini menunjukkan bagaimana sebuah kontroversi visual, ketika dikelola dengan respon yang positif oleh komunitas, dapat bertransformasi menjadi potensi ekonomi kreatif yang menggerakkan roda usaha mikro warga setempat. (***)










Leave a Reply