PWI JATIM – Libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026 membawa dampak signifikan terhadap volume sampah di Kota Malang, Jawa Timur. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) setempat mencatat peningkatan sampah sebanyak 25 ton per hari, melebihi proyeksi awal yang hanya sekitar 20 ton.
Pelaksana Harian (Plh) Kepala DLH Kota Malang, Gamaliel Raymond Matondang, mengungkapkan, pada hari biasa kota ini menghasilkan 720 hingga 730 ton sampah. Namun, selama momen libur Nataru, angka tersebut melonjak menjadi sekitar 755 ton per hari.
“Peningkatan ada sebanyak 25 ton, dari perkiraan awal sekitar 20 ton. Maka jika ditotal setiap harinya mencapai 755 ton sampah selama momen libur Nataru,” kata Raymond.
Ia menjelaskan bahwa meningkatnya aktivitas masyarakat dan kunjungan wisatawan menjadi pemicu utama. Kawasan dengan intensitas tinggi seperti sentra perdagangan (Pasar Klojen, Oro-oro Dowo, Pasar Kasin, Pasar Besar), wilayah kuliner (Sudimoro), hingga kawasan perumahan dan kos-kosan mahasiswa menjadi penyumbang terbesar lonjakan sampah.
Dampak langsung dari lonjakan volume ini terlihat pada operasional pengangkutan ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Supit Urang. Jika dalam kondisi normal ritase truk sampah berkisar 160-178 per hari, maka selama Nataru diperkirakan mencapai sekitar 200 ritase per hari.
Untuk mengatasi peningkatan ini, DLH Kota Malang melakukan strategi penyesuaian jam kerja ketimbang menambah jumlah petugas atau armada. Petugas kebersihan yang biasanya melakukan pengangkutan dua kali sehari, kini ditambah frekuensinya menjadi tiga hingga empat kali.
“Kami tidak menambah armada truk maupun petugas, artinya jumlahnya masih sama dengan hari biasa. Namun jam kerjanya yang kami tambah,” jelas Raymond.
Langkah antisipatif khusus juga diterapkan di kawasan tujuan wisata utama, seperti Kayutangan Heritage. Mengingat tingginya kunjungan wisatawan hingga sore dan malam hari, jadwal pengambilan sampah disesuaikan. Selain pengambilan rutin dini hari (pukul 02.00-06.00 WIB), kini ditambah pengambilan sampah pada malam hari untuk mencegah penumpukan.
“Pengambilan sampah juga kami tambah agar tidak menumpuk,” pungkas Raymond.
Kebijakan penyesuaian operasional ini diambil untuk memastikan kebersihan dan keindahan kota tetap terjaga optimal selama puncak musim liburan, sekaligus mengantisipasi potensi masalah kesehatan dan lingkungan akibat sampah yang menumpuk. (***)










Leave a Reply