Perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026 tinggal menghitung hari. Namun, kondisi tersebut tidak sepenuhnya membawa berkah bagi para pedagang parsel di Pusat Penjualan Parcel Cikini Gold Center, Jakarta Pusat. Alih-alih kebanjiran pesanan, sejumlah pedagang justru mengeluhkan penjualan bingkisan yang stagnan bahkan menurun dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Pantauan di lokasi menunjukkan deretan parsel dengan aneka bentuk dan tema masih tertata rapi di kios-kios. Namun, jumlah pengunjung tampak jauh lebih sepi. Lalu lalang pembeli tidak seramai musim Nataru sebelumnya, hanya terlihat beberapa orang yang singgah untuk bertanya harga tanpa langsung melakukan transaksi.
Pedagang Keluhkan Penjualan Parsel Nataru Lebih Sepi
Salah satu pedagang parsel, Sri, mengungkapkan bahwa penjualan tahun ini terasa lebih lambat. Padahal, menurutnya, biasanya memasuki pekan terakhir Desember pesanan mulai meningkat signifikan.
“Lebih ramai tahun lalu. Biasanya tanggal segini (22 Desember) sudah mulai ramai pesanan, tapi sekarang justru sepi,” ujar Sri saat ditemui di Cikini Gold Center, Senin (22/12).
Sri menjelaskan, selama sekitar satu bulan menjelang Nataru, jumlah parsel yang berhasil terjual hanya berkisar 200 hingga 300 paket. Angka tersebut menurun jika dibandingkan dengan penjualan pada periode yang sama di tahun sebelumnya.
Pedagang Sesuaikan Tema dan Harga Agar Tetap Bertahan
Untuk mengantisipasi sepinya pembeli, Sri mengaku melakukan berbagai penyesuaian. Mulai dari tema parsel, jenis isi, hingga harga, semuanya disesuaikan dengan kebutuhan dan anggaran konsumen.
“Sekarang lebih disesuaikan ke selera dan budget konsumen saja. Untuk parsel makanan harganya mulai Rp300 ribu sampai Rp400 ribu, sementara parsel pecah belah bisa mulai dari di bawah Rp1 juta,” jelasnya.
Menurut Sri, konsumen saat ini cenderung lebih berhitung dalam membelanjakan uangnya, sehingga fleksibilitas harga menjadi kunci agar parsel tetap diminati.
Sri menduga salah satu faktor utama menurunnya penjualan parsel Nataru adalah berdekatan dengan momen hari besar lain, yakni Imlek dan Idulfitri.
“Sekarang lebih sepi karena masih ada Imlek dan Lebaran nanti,” katanya.
Kondisi tersebut membuat banyak konsumen memilih menahan pengeluaran atau membagi anggaran agar tetap bisa berbagi bingkisan di momen Idulfitri.
Hal senada disampaikan Asep, seorang karyawan di kios parsel lain di Cikini Gold Center. Menurutnya, tradisi mengirim parsel lebih kuat saat Idulfitri dibandingkan Natal dan Tahun Baru.
“Biasanya memang lebih ramai pesanan parsel saat Lebaran, karena masyarakat lebih umum ngasih parsel di momen itu,” ujar Asep.
Ia mengungkapkan, pada momen Nataru, pesanan parsel kebanyakan berasal dari pelanggan tetap, baik dari kalangan perusahaan maupun individu yang rutin memesan setiap tahun.
“Kalau Natal, biasanya yang pesan itu-itu saja, dari kantor atau langganan pribadi,” tambahnya.
Konsumen Lebih Selektif Atur Anggaran Bingkisan
Dari sisi pembeli, kondisi ekonomi dan padatnya agenda hari raya membuat masyarakat lebih selektif. Salah satu pembeli parsel, Kristi, mengaku sengaja menyusun daftar khusus sebelum membeli bingkisan Nataru.
Ia mencatat harga, jumlah parsel, serta siapa saja penerimanya, agar pengeluaran tetap terkendali. Terlebih, momen Natal dan Tahun Baru kali ini berdekatan dengan Idulfitri.
“Saya akali budget dengan ngasih parsel Nataru hanya ke orang-orang yang merayakan Natal saja,” ujar Kristi.
Dengan cara tersebut, ia masih memiliki ruang anggaran untuk tetap mengirim parsel Lebaran kepada kerabat dan teman yang merayakan Idulfitri.
“Biar nanti pas Lebaran saya masih bisa kasih juga,” pungkasnya.
Meski penjualan masih lesu, para pedagang berharap permintaan meningkat mendekati Hari Natal dan Tahun Baru. Mereka optimistis pembeli last minute tetap akan datang, terutama dari kalangan perusahaan dan pelanggan loyal.
Namun demikian, fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran pola belanja masyarakat, di mana konsumen semakin rasional dan selektif dalam membelanjakan uang, terutama di tengah banyaknya momen besar dalam satu periode.










Leave a Reply