Fenomena pola asuh di Indonesia sedang mengalami pergeseran yang cukup dramatis. Di satu sisi, masih ada orang tua yang mempertahankan pendekatan keras ala generasi terdahulu. Di sisi lain, muncul kecenderungan baru di mana orang tua justru terlalu membela anak. Lantas, bagaimana sebenarnya pola asuh keras di zaman sekarang dipraktikkan? Apakah masih relevan? Mari kita bedah tuntas berdasarkan fakta dan pendapat para ahli.
Pola asuh keras atau otoriter adalah pendekatan yang menuntut kepatuhan mutlak dari anak tanpa ruang untuk diskusi atau negosiasi . Dalam pola asuh ini, orang tua menetapkan aturan ketat dan mengharapkan anak untuk patuh tanpa bertanya. Namun, para psikolog memperingatkan bahwa pola asuh seperti ini justru dapat memicu berbagai masalah psikologis pada anak, terutama ketika diterapkan di era digital yang penuh kompleksitas ini.
Memahami Pola Asuh Keras dalam Konteks Kekinian
Definisi Pola Asuh Otoriter
Psikolog klinis Diana Baumrind, yang pertama kali memperkenalkan teori gaya pengasuhan pada tahun 1966, mendefinisikan pola asuh otoriter sebagai gaya yang menuntut namun tidak responsif . Orang tua otoriter menerapkan standar perilaku yang kaku dan cenderung menggunakan hukuman sebagai alat kontrol. Mereka jarang menjelaskan alasan di balik aturan yang dibuat.
Dalam praktik sehari-hari, pola asuh keras ini terlihat dari komunikasi satu arah. Orang tua berkata, “Ini aturannya, laksanakan.” Tidak ada ruang bagi anak untuk bertanya atau menyampaikan pendapat. Dr. Shefali Tsabary, psikolog klinis, menyebut pendekatan ini sebagai cara pandang yang “melihat anak sebagai objek yang harus difokuskan dan diperbaiki” .
Mengapa Pola Asuh Keras Masih Dipraktikkan?
Banyak orang tua menerapkan pola asuh keras karena meniru cara mereka dibesarkan dulu. Generasi sebelumnya percaya bahwa disiplin ketat adalah kunci membentuk anak yang bertanggung jawab. Mereka menganggap bahwa memberikan kelonggaran hanya akan memanjakan anak.
Selain itu, kekhawatiran terhadap pengaruh buruk era digital juga mendorong orang tua bersikap lebih keras. Mereka takut anak terpapar konten negatif dari gadget, sehingga menerapkan aturan super ketat tanpa diskusi. Ironisnya, pendekatan ini seringkali kontraproduktif dan justru membuat anak semakin tertarik pada hal-hal yang dilarang.
Dampak Negatif Pola Asuh Keras pada Anak
Penelitian terkini menunjukkan bahwa pola asuh keras membawa konsekuensi serius bagi perkembangan anak. Mari kita telusuri satu per satu.
Gangguan Kesehatan Mental
Studi tahun 2015 di Royal University of Phnom Penh menemukan bahwa lebih dari 60 persen mahasiswa yang mengalami kecemasan atau depresi mengaitkan kondisi ini dengan pola asuh keras yang mereka terima semasa kecil . Anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh tekanan terus-menerus akan mengalami ketegangan psikologis kronis.
Psikolog keluarga Nurmey Nurulchaq atau Ning Rully menjelaskan bahwa pola asuh otoriter membuat anak mudah cemas. “Kecemasan itu timbul akibat harus selalu menuruti setiap aturan dan konsekuensi. Anak-anak kesulitan menentukan pilihan sendiri karena terbiasa bergantung pada orang tua,” jelasnya .
Rendahnya Harga Diri
Pola asuh keras mengutamakan kepatuhan di atas segalanya. Anak tidak diajak memahami nilai dari suatu aturan, hanya sekadar menurut. Akibatnya, mereka tidak mengembangkan rasa percaya diri dan kemandirian. Ahli Ontologi Aashmeen Munjaal menyatakan bahwa pola asuh ketat menyebabkan rendahnya harga diri karena membatasi anak untuk hidup sesuai stereotip dan menghalangi mereka mengambil inisiatif .
Perilaku Memberontak atau Sebaliknya, Terlalu Patuh
Paradoks dari pola asuh keras adalah anak bisa bereaksi dalam dua cara ekstrem. Sebagian anak menjadi sangat patuh karena takut, namun kehilangan kemampuan berpikir kritis. Sebagian lainnya justru memberontak hebat saat memasuki masa remaja.
Ning Rully menambahkan, “Anak yang terbiasa menerima pola asuh otoriter, lama-lama bisa merasa tidak tahan dengan segala aturan. Akibatnya, anak dengan sengaja membangkang kepada orang tua, bahkan melakukan hal buruk” .
Kesulitan Bersosialisasi
Tumbuh di lingkungan kaku membuat anak kesulitan mengembangkan keterampilan sosial. Mereka tidak terbiasa mengomunikasikan perasaan dan emosi. Aashmeen Munjaal menjelaskan bahwa kondisi ini berkontribusi pada kurangnya komunikasi antarpribadi, yang mempersulit pembentukan dan pemeliharaan hubungan di masa dewasa .
Keterkaitan dengan Perilaku Bullying
Data dari UPT P2TP2A Kutai Kartanegara menunjukkan bahwa pola asuh keras berkontribusi pada meningkatnya kasus bullying. Psikolog klinis Sabrina mengungkapkan, “Anak yang mengalami pola asuh terlalu keras melampiaskan emosinya ke orang lain yang dianggap lebih lemah” . Sepanjang tahun 2024 tercatat 5 kasus bullying di tingkat SD dan SMP, dan pada 2025 kasus di tingkat SMA mulai bermunculan.
Pola Asuh Otoritatif: Alternatif Sehat Pengganti Kekerasan
Lalu, bagaimana pola asuh yang tepat? Para ahli sepakat bahwa pola asuh otoritatif adalah pendekatan paling efektif. Jangan keliru membedakan otoriter dengan otoritatif, karena keduanya sangat berbeda.
Apa Itu Pola Asuh Otoritatif?
Pola asuh otoritatif menggabungkan kehangatan dengan disiplin yang jelas. Orang tua menetapkan batasan dan aturan, namun juga responsif terhadap kebutuhan emosional anak. Mereka menjelaskan alasan di balik aturan dan mendengarkan pendapat anak .
Dr. Shefali menjelaskan, “Anak-anak kita tidak datang ke dunia ini untuk menjadi boneka kita. Mereka datang untuk berjuang, tersandung, berkembang, dan menikmatiāsebuah perjalanan yang membutuhkan dorongan semangat dari kita” .
Perbandingan Nyata Otoriter vs Otoritatif
Mari kita lihat contoh konkret perbedaan kedua pola asuh ini dalam situasi sehari-hari :
Saat anak mengamuk:
– Otoriter: “Berhenti menangis sekarang! Kalau tidak, kita pulang.”
– Otoritatif: “Ibu lihat kamu kesal. Tarik napas dulu, yuk, dan kita cari tahu masalahnya bersama.”
Saat nilai ulangan jelek:
– Otoriter: “Nilai jelek begini? Kamu dihukum sampai nilai naik.”
– Otoritatif: “Ayo kita lihat soalnya bersama. Menurut kamu, yang salah di mana? Bagaimana cara memperbaikinya?”
Saat melanggar jam malam:
– Otoriter: “Kamu terlambat! HP disita seminggu.”
– Otoritatif: “Kamu terlambat pulang. Ada kendala apa? Bagaimana agar ini tidak terulang lagi?”
Perbedaan mendasarnya terletak pada tujuan. Pola asuh otoriter bertujuan kepatuhan jangka pendek melalui ketakutan. Pola asuh otoritatif bertujuan membangun pemahaman dan tanggung jawab jangka panjang.
Manfaat Pola Asuh Otoritatif
Penelitian menunjukkan anak yang dibesarkan dengan pola asuh otoritatif cenderung memiliki harga diri tinggi, kecerdasan emosional baik, mampu mengambil keputusan mandiri, serta memiliki resiliensi dan hubungan sosial yang sehat . Fakultas Psikologi Universitas Medan Area juga menegaskan bahwa pola asuh ini memungkinkan anak merasa dicintai dan dihargai, sambil mendapatkan batasan yang jelas dan konsisten .
Fenomena Terbaru: Pola Asuh yang Terlalu Melindungi
Menariknya, di tengah kekhawatiran tentang pola asuh keras, muncul fenomena sebaliknya yang juga mengkhawatirkan. Menteri PPPA Arifah Fauzi mengungkapkan bahwa pola asuh orang tua zaman sekarang justru berubah ke arah sebaliknya: terlalu melindungi dan membela anak meskipun salah .
Pola Asuh “Bela Anak” yang Bermasalah
Arifah mencontohkan, “Dulu kalau anak berantem, lapor ke orang tua, yang dimarahin kitanya. Sekarang anak berantem, lapor ke orang tua, orang tuanya yang lebih marah. Ini sudah kebolak-balik” . Menurutnya, pola asuh yang keliru ini menjadi faktor utama penyebab kekerasan pada anak.
Orang tua zaman sekarang tidak tega melihat anaknya susah. Mereka tidak mau anaknya mengalami proses pembangunan karakter yang justru penting untuk membentuk ketangguhan. Akibatnya, anak kehilangan kesempatan belajar tanggung jawab dan menghadapi tantangan hidup.
Dilema Orang Tua Modern
Banyak orang tua saat ini kewalahan mengasuh anak, terutama karena faktor gadget dan perubahan lingkungan sosial. Hubungan antarwarga semakin berjarak karena teknologi, sehingga dukungan komunitas dalam pengasuhan semakin berkurang .
Di sinilah letak tantangannya. Orang tua harus mencari jalan tengah antara pola asuh keras yang otoriter dan pola asuh terlalu lunak yang overprotektif. Kedua ekstrem sama-sama berbahaya bagi perkembangan anak.
Pola Asuh Ala Generasi Tua yang Mulai Ditinggalkan
Generasi muda seperti Milenial dan Gen Z mulai menolak pola asuh ala generasi tua yang dianggap keras dan kaku. Jawa Pos melaporkan setidaknya ada lima pola asuh warisan masa lalu yang kini dikritik .
Parenting Ala VOC
Istilah “parenting ala VOC” muncul sebagai kritik terhadap pola asuh yang eksploitatif dan kaku, seperti praktik perusahaan dagang Belanda di masa kolonial. Ciri-cirinya adalah menuntut hasil tanpa memedulikan proses, serta mengutamakan kepatuhan buta.
Pilihan Karier yang Dipaksakan
Generasi tua yang tumbuh di masa ekonomi sulit sangat menjunjung stabilitas finansial. Mereka mendorong anak mengambil jalur karier “aman” seperti dokter, PNS, atau insinyur. Profesi kreatif seperti content creator atau game developer sering dipandang sebelah mata.
Namun dunia berubah. Generasi muda lebih menekankan pentingnya bekerja di bidang yang disukai, karena kebahagiaan dan kesehatan mental tak kalah penting dibanding gaji tetap.
Komunikasi Satu Arah
Pendekatan “ucapan adalah perintah” tanpa ruang diskusi mulai ditinggalkan. Anak-anak sekarang membutuhkan penjelasan dan dialog, bukan sekadar instruksi. Mereka ingin memahami “mengapa” di balik suatu aturan, bukan hanya “apa” aturannya.
Tips Menerapkan Pola Asuh yang Tepat di Era Digital
Bagaimana cara menerapkan pola asuh yang sehat di tengah tantangan zaman sekarang? Berikut panduan praktis dari para ahli.
Bangun Komunikasi Dua Arah
Dengarkan pendapat dan perasaan anak. Psikolog klinis menekankan pentingnya validasi emosi. Jangan mengabaikan atau meremehkan perasaan anak hanya karena mereka masih kecil. Tanyakan “Apa yang kamu rasakan?” dan bantu mereka mengidentifikasi emosi tersebut .
Tetapkan Batasan Jelas dengan Penjelasan
Anak tetap butuh aturan, tapi sertakan alasan. Misalnya, bukan sekadar “Jam 9 malam harus pulang”, tapi “Kami khawatir kalau kamu pulang terlalu larut karena di luar sudah gelap dan berisiko. Lebih baik pulang sebelum jam 9 agar kami tenang.”
Beri Konsekuensi yang Mendidik
Saat anak melanggar aturan, beri konsekuensi yang mengajarkan pelajaran hidup, bukan sekadar hukuman fisik atau verbal. Misalnya, jika anak lupa mengerjakan PR, konsekuensinya adalah ia harus mengurangi waktu bermain untuk menyelesaikannya, bukan dimarahi atau dipukul.
Libatkan Anak dalam Membuat Aturan
Untuk hal-hal tertentu, ajak anak berdiskusi menetapkan aturan bersama. Ini mengajarkan mereka tanggung jawab dan membuat mereka lebih memahami serta menghormati aturan yang dibuat. Anak akan merasa dihargai pendapatnya.
Jadilah Teladan, Bukan Sekadar Pengatur
Anak belajar lebih banyak dari apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka dengar. Tunjukkan perilaku yang kamu harapkan dari mereka. Jika ingin anak tidak berkata kasar, pastikan kamu juga tidak berkata kasar. Jika ingin anak menghormati orang lain, tunjukkan rasa hormat dalam interaksimu sehari-hari.
Awasi Penggunaan Gadget dengan Bijak
Psikolog Sabrina mengingatkan pentingnya peran orang tua sebagai pintu utama perkembangan anak di rumah melalui pemantauan konten yang diakses anak . Bukan dengan melarang total, tapi dengan mendampingi dan mendiskusikan konten yang mereka konsumsi.
Kesimpulan
Pola asuh keras di zaman sekarang terbukti membawa lebih banyak mudarat daripada manfaat. Data dan penelitian menunjukkan bahwa pendekatan otoriter memicu masalah kesehatan mental, rendahnya harga diri, perilaku memberontak, hingga tindakan bullying pada anak. Di sisi lain, pola asuh yang terlalu melindungi juga tidak kalah berbahayanya karena membuat anak kehilangan kesempatan belajar tanggung jawab.
Jawaban dari dilema ini adalah pola asuh otoritatif: tegas namun hangat, disiplin namun responsif. Pendekatan ini memberikan batasan jelas sambil tetap menghargai anak sebagai individu yang punya perasaan dan pendapat. Rasulullah SAW pun mengajarkan untuk memperlakukan anak kecil sebagai anak kecil, jangan memaksakan pandangan orang dewasa kepada mereka .
Pada akhirnya, tidak ada orang tua yang sempurna. Yang terpenting adalah kemauan untuk terus belajar dan memperbaiki diri. Seperti pesan Dr. Shefali, “Kita harus melatih diri untuk masuk ke ruang observasi dan kesaksian tanpa tindakan ke luar. Kita perlu mulai mendengarkan diri sendiri sebelum sesuatu keluar dari diri kita” . Dengan kesadaran dan usaha konsisten, kita bisa memberikan pola asuh terbaik bagi generasi penerus bangsa.










Leave a Reply