PWI JATIM – Bencana longsor menerjang Jembatan Sentong yang menghubungkan Kelurahan Nangkaan dan Sukowiryo di Kabupaten Bondowoso, menyebabkan akses lalu lintas utama menuju Kabupaten Jember lumpuh total. Pemerintah setempat memutuskan untuk menutup jembatan bagi seluruh pengguna jalan demi keselamatan masyarakat, Rabu (25/2/2026).
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bondowoso, Kristianto, menegaskan bahwa penutupan bersifat mutlak menyusul kondisi struktur jembatan yang masih labil dan berisiko tinggi terjadi longsor susulan.
“Kami sepakat ditutup total, roda dua, roda empat, bahkan pejalan kaki tidak diperbolehkan melintas,” ujar Kristianto saat dikonfirmasi awak media.
Jembatan yang ambrol pada Senin (23/2/2026) lalu itu diperkirakan runtuh akibat hujan deras yang mengguyur kawasan tersebut ditambah faktor usia jembatan yang sudah tua. Kondisi ini memaksa pemerintah mengalihkan arus lalu lintas melalui sejumlah jalur alternatif dengan tambahan jarak tempuh hingga 7 kilometer.
Rekayasa Lalu Lintas dan Jalur Alternatif
Pemerintah Kabupaten Bondowoso telah menyiapkan skema pengalihan arus yang dibedakan berdasarkan jenis kendaraan. Bagi kendaraan besar dari arah Jember, dialihkan melalui Kecamatan Grujugan menuju arah timur ke Kalianyar. Sementara kendaraan bertonase lebih berat diarahkan melalui Maesan ke timur dan tembus di Kecamatan Tamanan hingga Koncer.
Untuk kendaraan roda dua dan kendaraan kecil lainnya, tersedia dua opsi jalur. Pertama, melalui jalur Tamanan menuju Grujugan–Koncer. Kedua, melalui Desa Kembang di Kecamatan Tlogosari–Pakuwesi di Kecamatan Curahdami–Kelurahan Nangkaan.
“Rata-rata tambahan jaraknya sekitar 5 sampai 7 kilometer,” jelas Kristianto.
Ia menambahkan, Jembatan Sentong merupakan infrastruktur vital karena menjadi penghubung utama antara Bondowoso dan Jember di jalur provinsi. Dampak putusnya akses ini cukup terasa bagi mobilitas warga dan distribusi barang antar dua kabupaten.
Jembatan Bailey Tak Memungkinkan, Proses Bangun Butuh 8 Bulan
Kristianto mengungkapkan bahwa pembangunan jembatan darurat tipe bailey (rangka baja) tidak dapat dilakukan karena keterbatasan ruang di sekitar lokasi. Posisi jembatan yang mepet dengan area makam dan bangunan lain membuat pemasangan struktur sementara menjadi tidak memungkinkan.
“Posisinya mepet dengan makam dan bangunan lain, jadi tidak memungkinkan dipasang jembatan bailey,” ujarnya.
Dengan demikian, proses pembangunan jembatan permanen diperkirakan memakan waktu hingga delapan bulan. Selama periode tersebut, masyarakat harus bersabar menggunakan jalur-jalur alternatif yang telah disiapkan.
BPBD Bondowoso mengimbau seluruh pengguna jalan untuk mematuhi rambu-rambu pengalihan arus dan tetap waspada selama berkendara di jalur alternatif. Petugas juga akan ditempatkan di titik-titik rawan untuk mengatur kelancaran lalu lintas.
“Masyarakat kami minta untuk bersabar dan mengikuti arahan petugas di lapangan. Keselamatan adalah prioritas utama kami,” pungkas Kristianto. (***)










Leave a Reply