Di era digital ini, hampir mustahil memisahkan anak dari layar gawai. Bagi kebanyakan anak, game merupakan bagian tak terpisahkan dari keseharian mereka. Sebagai orang tua, kita mungkin sering khawatir melihat mereka asyik dengan dunia virtual. Kekhawatiran ini wajar. Sebab, efek main game tidaklah tunggal; ia bisa menjadi pisau bermata dua. Memahami secara mendalam efek positif dan negatifnya adalah kunci agar kita tidak salah langkah dalam mendampingi buah hati.
Data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2024 menunjukkan fakta mencengangkan: 70,4% anak dan remaja Indonesia usia 10 hingga 19 tahun adalah pemain aktif game online . Lebih jauh lagi, sekitar 42% dari mereka mengakui menghabiskan lebih dari tiga jam sehari di hadapan layar . Angka ini bukan sekadar statistik dingin. Ini adalah cerminan bahwa dunia virtual telah menjadi kanvas utama dalam melukis keseharian anak-anak kita.
Sebagian orangtua menuding game sebagai penyebab nilai anak turun, anak tak mampu bersosialiasi, dan tindakan kekerasan yang dilakukan anak . Tudingan ini tidak sepenuhnya salah, tetapi juga tidak sepenuhnya benar. Cap negatif ini justru sering muncul dari kurangnya pemahaman kita akan potensi game untuk perkembangan serta pendidikan anak . Maka, mari kita bedah tuntas dampak kompleks ini.
Dampak Negatif yang Mengintai
Kita tidak bisa menutup mata dari risiko yang mengintai di balik keseruan bermain game. Jika tidak dikelola dengan baik, efek main game bisa sangat merugikan perkembangan anak.
Kecanduan dan Gangguan Kesehatan Mental
Risiko terbesar yang muncul adalah kecanduan game (game addiction). Kondisi ini ditandai dengan dorongan untuk bermain secara terus menerus, ketidakmampuan mengatur waktu, hingga menarik diri dari lingkungan sosial . Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan telah mengakui _gaming disorder_ sebagai gangguan perilaku yang membutuhkan perhatian medis dan psikologis . Anak yang kecanduan bisa mengalami gangguan emosi, mudah cemas, dan cepat marah, terutama ketika dilarang bermain .
Tumpulnya Empati dan Meningkatnya Agresi
Pakar Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surabaya, Holy Ichda Wahyuni, mengingatkan bahwa game daring dengan unsur kekerasan berpotensi memengaruhi perilaku dan psikologis anak . Menurutnya, anak merupakan individu yang sangat visual dan memiliki kecenderungan kuat untuk meniru. Dalam teori _Social Learning_ dari Albert Bandura, anak belajar melalui proses observasi dan peniruan. Ketika melihat karakter dalam game memperoleh “reward” seperti kemenangan setelah melakukan kekerasan, anak bisa meniru perilaku itu dan menganggapnya wajar .
Paparan jangka panjang tanpa pendampingan dapat menimbulkan desensitisasi emosional, yaitu menurunnya empati dan meningkatnya toleransi terhadap kekerasan . Sebuah studi kasus di SD Negeri 22 Tamalatea bahkan menemukan dampak negatif berupa perubahan sikap, seperti berbicara kasar dan sikap membangkang sebagai akibat dari ketergantungan terhadap game online .
Gangguan Kesehatan Fisik
Dari sisi fisik, bahaya game online bagi anak juga nyata. Efek main game yang berlebihan bisa mengganggu sirkulasi darah yang memicu pusing dan migrain, menyebabkan sakit mata karena kelelahan, hingga masalah pencernaan seperti maag akibat pola makan yang berantakan . Anak yang kecanduan juga cenderung malas melakukan aktivitas fisik lainnya.
Kemunduran Prestasi Akademik dan Sosial
Waktu yang tersita untuk bermain game secara berlebihan jelas akan mengganggu waktu belajar. Akibatnya, konsentrasi dan fungsi daya ingat anak terganggu, yang berujung pada penurunan prestasi di sekolah . Selain itu, interaksi sosial di dunia nyata berkurang drastis. Anak menjadi lebih nyaman berkomunikasi secara virtual sehingga kemampuan bersosialisasinya di dunia nyata pun melemah .
Dampak Positif yang Sering Terlupakan
Namun, tidak adil rasanya jika kita hanya melihat dari sisi negatifnya. Game tidak hanya memiliki dampak negatif, tetapi juga terdapat dampak positif jika anak bermain game dalam porsi yang pas .
Meningkatkan Kemampuan Kognitif dan Pemecahan Masalah
Hasil penelitian menunjukkan bahwa game online memiliki dampak positif seperti meningkatkan kerjasama, pengetahuan tentang komputer, serta kemampuan motorik siswa . Bahkan, riset terbaru dari Universitat Oberta de Catalunya (UOC) menemukan fakta mengejutkan. Anak muda berumur di bawah 14 tahun yang bermain game beberapa jam per minggu memiliki peningkatan dalam fungsi otak yang terbawa hingga dewasa .
Studi tersebut membuktikan bahwa anak yang bermain video game menunjukkan peningkatan kognitif dalam segi memori, waktu respons, dan kesadaran persepsi objek 3D . Para ahli menyimpulkan bahwa game mampu mempertahankan perhatian pemain dan memikat mereka untuk tetap bermain meski level terus naik. Hal ini secara tidak langsung membutuhkan penggunaan daya otak secara intens dan terus-menerus. “Video game adalah resep terbaik untuk memperkuat skill kognitif, hampir tanpa kita sadari,” kata Marc Palaus, Ph.D .
Sarana Belajar Bahasa Asing dan Kreativitas
Dari hasil analisis berbagai literatur, dampak positif game online lainnya adalah melatih anak dalam konsentrasi, memahami bahasa Inggris, kecepatan berpikir, kreativitas, kesabaran, dan bahkan mengurangi stres . Game dengan alur cerita yang kompleks juga bisa merangsang imajinasi dan kreativitas anak.
Dilema Moral dan Spiritual: Pandangan Psikologi Islam
Dalam kacamata sosiologi dan psikologi Islam, anak dipandang sebagai amanah yang wajib dijaga secara holistik, termasuk akal, jiwa, dan raganya . Lalu, bagaimana hukumnya?
Fakultas Psikologi Universitas Islam Indonesia memaparkan bahwa hukum asal bermain game adalah mubah atau boleh, selama tidak mengandung unsur judi dan pornografi . Namun, hukum ini bisa berubah menjadi haram jika efek main game justru membuat pemainnya meninggalkan kewajiban, baik kepada Allah SWT (seperti shalat) maupun kepada sesama manusia .
Yusuf al-Qaradawi dalam bukunya _Fiqhu al-Lahwi wa al-Tarwihi_ menyebut beberapa jenis permainan yang dilarang agama, yaitu yang mengandung unsur bahaya, menampilkan aurat, bermuatan magis, mengandung judi, atau melecehkan orang lain . Dalam perspektif ini, literasi digital bukan sekadar kemampuan teknis, tetapi juga kompetensi kritis dan etis untuk memaknai setiap interaksi. Anak perlu paham bahwa ruang digital bukanlah ruang bebas nilai .
Pola Asuh dan Peran Aktif Orang Tua
Lalu, apa solusinya? Melarang total bukanlah jawaban. Pakar pendidikan Holy Ichda Wahyuni menilai pelarangan hanya efektif sebagai solusi sementara . Yang terpenting adalah pendampingan dan bimbingan yang berkelanjutan.
Pahami Dunia Anak Melalui Game
Alih-alih hanya dianggap membuang waktu, hobi bermain game sebenarnya bisa dimanfaatkan sebagai sarana belajar dan membangun kedekatan antara orang tua dengan anak . Dengan ikut mengenal game yang dimainkan anak, orang tua bisa masuk ke dunianya dan menjadikan hobi ini sebagai media komunikasi.
Terapkan Pola Asuh yang Tepat
Penelitian tahun 2024 di Kota Gresik mengungkapkan bahwa pola asuh yang berfokus memenuhi kebutuhan psikologis dasar anak dapat mengurangi risiko kecanduan game . Pola asuh otoritatif, misalnya, memberikan anak wewenang melakukan hal yang ia sukai, tetapi orang tua tetap mengawasi. Pendekatan ini membantu mengembangkan disiplin diri anak berdasarkan pemahaman, bukan karena paksaan .
Tetapkan Batasan Waktu yang Sehat
Orang tua perlu mengajarkan disiplin bermain game agar tidak mengganggu jam belajar, istirahat, maupun aktivitas sosial anak . Berikan batasan waktu main yang jelas dan konsisten. Sebagai orang tua, kita juga perlu memberikan contoh penggunaan teknologi yang bijak kepada anak .
Bangun Koneksi Emosional dan Kompetensi Anak
Dukung perkembangan kompetensi anak dengan memberikan mereka tanggung jawab harian dan ajak mereka melakukan kegiatan di dunia nyata, seperti bersepeda atau kegiatan seni . Ketika anak merasa percaya diri dengan kemampuannya di dunia nyata, mereka tidak akan terlalu bergantung pada game sebagai satu-satunya alat pemuas diri .
Kebutuhan psikologis dasar anak akan terpenuhi dengan kehadiran orang tua pada setiap fase hidup mereka . Jangan pernah menyerah dalam membimbing anak, memberikan kasih sayang, dan menyampaikan nilai yang kita yakini secara berulang kali.
Kesimpulan
Efek main game pada anak adalah konsekuensi dari bagaimana kita mengelolanya. Game bisa menjadi perangkap yang merusak, tetapi juga bisa menjadi alat asah otak yang luar biasa. Kuncinya ada pada keseimbangan dan pendampingan. Yang perlu kita bangun bukan sekadar larangan, tapi dialog kritis tentang nilai moral, empati, dan konsekuensi dari tindakan di dunia maya . Literasi digital perlu ditanamkan agar anak bisa membedakan antara realitas dan fantasi. Dengan sinergi antara orang tua, sekolah, dan lingkungan, kita bukan hanya membatasi dampak negatif game, tetapi juga memanfaatkan potensinya untuk membangun generasi digital yang cerdas dan berempati.










Leave a Reply