PWI JATIM – Cuaca ekstrem yang belakangan kerap melanda Kabupaten Jember menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat menghadapi bencana. Peringatan keras disampaikan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang menyatakan bahwa hampir seluruh wilayah Jawa Timur, termasuk Jember, berada dalam kategori risiko bencana tinggi atau zona merah.
Hal tersebut diungkapkan oleh Unsur Pengarah BNPB, Rahmawati Husein, dalam paparannya pada Kajian Ramadhan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur di Universitas Muhammadiyah Jember, Sabtu (21/2/2026) lalu. Berdasarkan peta risiko nasional yang dirilis BNPB, hampir tidak ada wilayah di Jawa Timur yang masuk kategori risiko ringan (hijau).
“Kalau BNPB itu daerah rawan bencana dibagi hijau ringan, kuning sedang, merah tinggi, dan Jawa Timur itu hampir semuanya merah, hampir tidak ada yang hijau,” kata Rahmawati di hadapan peserta kajian.
Bencana Hidrometeorologi Dominasi Kejadian
Rahmawati menegaskan bahwa data yang dipaparkannya bukan untuk menakut-nakuti masyarakat, melainkan merupakan hasil perhitungan ilmiah berdasarkan frekuensi dan potensi ancaman bencana yang terus berulang. Ia menjelaskan, tren bencana di Indonesia saat ini didominasi oleh bencana hidrometeorologi. Sepanjang 2024 hingga awal 2025, persentase kejadian bencana seperti banjir, cuaca ekstrem, tanah longsor, dan angin kencang mencapai sekitar 98 persen dari total kejadian.
Kondisi tersebut tercermin jelas di Kabupaten Jember. Dalam beberapa bulan terakhir, cuaca ekstrem telah memicu sejumlah bencana di berbagai kecamatan, terutama di wilayah selatan dan pegunungan, seperti banjir, angin kencang, dan tanah longsor.
Jember dan Jawa Timur Hadapi Ancaman Multihazard
Lebih lanjut, Rahmawati memaparkan bahwa Jawa Timur tidak hanya menghadapi satu jenis ancaman, melainkan multihazard atau multiancaman sekaligus. “Bencana di Indonesia itu ada 14 yang dikategorikan bencana alam, mulai dari puting beliung, tsunami, gempa, sampai gunung api, dan Jawa Timur punya semuanya,” ujarnya.
Sejumlah gunung api aktif yang tersebar di Jawa Timur, seperti Gunung Semeru, Raung, Kelud, dan Gunung Bromo, disebutnya berpotensi erupsi sewaktu-waktu. Selain ancaman vulkanik, provinsi ini juga dilintasi oleh banyak sesar aktif yang dapat memicu gempa bumi dangkal dengan kedalaman kurang dari 20 kilometer.
“Di Indonesia ini hampir semua gempa dalam sejarah itu mayoritas gempa dangkal, dan gempa dangkal itu biasanya lebih destruktif (merusak),” kata Rahmawati, mengingatkan bahwa gempa jenis ini cenderung menimbulkan kerusakan yang lebih besar dibanding gempa dalam.
Pernyataan BNPB ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan kesiapsiagaan seluruh elemen masyarakat, khususnya di Kabupaten Jember, untuk lebih sigap dalam menghadapi potensi bencana yang dapat terjadi kapan saja. (***)










Leave a Reply