PWI JATIM – Memasuki tahun kedua pelaksanaannya, program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, kembali bergulir seiring dimulainya kegiatan belajar mengajar di awal Ramadhan, Senin (23/2/2026). Namun, di balik dimulainya kembali penyaluran, terungkap fakta bahwa ribuan siswa jenjang SMA dan sederajat belum merasakan manfaat program tersebut, terutama di wilayah kepulauan.
Data dari Cabang Dinas Pendidikan (Cabdin) Kabupaten Sumenep mencatat, dari total 20.836 siswa SMA, SMK, dan SLB negeri maupun swasta, baru 12.821 siswa yang menerima MBG. Artinya, masih ada 8.015 siswa yang belum tersentuh program andalan pemerintah ini.
Kepala Cabang Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep, Rusliy, mengonfirmasi bahwa ribuan siswa yang belum menerima tersebut tersebar di berbagai sekolah, termasuk di wilayah kepulauan yang selama ini menjadi tantangan tersendiri dalam hal distribusi.
“Yang belum menerima itu ada di SMA, SMK, dan SLB, baik negeri maupun swasta,” ujar Rusliy di Sumenep, Senin.
Ia mengungkapkan, salah satu kendala utama dalam pemerataan program ini adalah minimnya koordinasi antara pelaksana teknis di lapangan dengan pihak Cabdin. Menurut Rusliy, Satuan Pelaksana Program Gizi (SPPG) lebih banyak berkomunikasi langsung dengan pihak sekolah, sementara Cabdin justru lebih sering berkoordinasi dengan Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Jawa Timur, unit pelaksana teknis dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
“Selama ini SPPG langsung ke sekolah. Yang berkoordinasi dengan kami justru dari BBPMP Jawa Timur, UPT-nya Kemendikdasmen,” tambahnya.
Akibatnya, Cabdin tidak memiliki data rinci mengenai jadwal distribusi dan sekolah mana saja yang telah menerima program. Rusliy juga mengaku belum mendapat kepastian kapan seluruh siswa SMA dan sederajat di Sumenep bisa menikmati MBG secara merata.
“Harapannya ke depan koordinasi lebih jelas, supaya kami juga bisa memetakan sekolah mana yang sudah dan belum menerima,” tuturnya.
Pantauan Kompas.com di lapangan, sejumlah sekolah memang telah mulai menerima menu MBG pada hari pertama Ramadhan ini. Namun, menu yang disajikan masih berupa makanan kering dan tetap menyertakan susu formula. Sejumlah kalangan menilai komposisi menu tersebut kurang optimal untuk mendukung perbaikan gizi siswa, terutama di bulan puasa di mana asupan nutrisi saat sahur dan berbuka menjadi krusial.
Dengan masih adanya ribuan siswa yang belum tersentuh dan koordinasi yang belum rapi, program Makan Bergizi Gratis di Sumenep masih menyisakan pekerjaan rumah yang tak ringan bagi para pemangku kepentingan. (***)










Leave a Reply