Menyaksikan kemegahan Candi Prambanan saat matahari terbenam sering kali membawa kita pada pertanyaan besar. Bagaimana mungkin leluhur kita membangun struktur setinggi 47 meter ini dengan teknologi yang terbatas? Saya masih ingat pertama kali mengunjungi kompleks ini, perasaan takjub bercampur penasaran muncul begitu melihat puncak-puncak candi yang menjulang gagah di cakrawala. Lebih dari sekadar tumpukan batu, Candi Prambanan menyimpan kisah panjang tentang peradaban, keyakinan, dan perjalanan politik di tanah Jawa.
Artikel ini akan mengajak Anda menyelami sejarah Candi Prambanan secara utuh. Kita tidak hanya akan membahas siapa yang membangun, tetapi juga menggali latar belakang politik, fungsi religius, masa kegelapan, hingga proses pemugaran yang membuatnya kembali berdiri megah seperti sekarang. Dengan pendekatan naratif dan data akurat dari para arkeolog, mari kita buka lembaran sejarah prambanan yang penuh misteri ini.
Awal Mula Pembangunan Candi Prambanan
Berbicara tentang asal-usul candi ini, kita harus mundur ke abad ke-9 Masehi, tepatnya pada masa Kerajaan Medang Mataram kuno. Saat itu, Jawa Tengah menjadi saksi persaingan dua dinasti besar yang memiliki keyakinan berbeda: Wangsa Sanjaya yang bercorak Hindu dan Wangsa Sailendra yang bercorak Buddha . Para sejarawan percaya bahwa pembangunan Candi Prambanan tidak lepas dari dinamika politik ini.
Rakai Pikatan dan Teori Tandingan Candi Borobudur
Beberapa ahli berpendapat bahwa pembangunan candi ini dimulai oleh Rakai Pikatan dari Wangsa Sanjaya sekitar tahun 850 Masehi . Menariknya, Rakai Pikatan menikah dengan Pramodhawardhani, seorang putri dari Wangsa Sailendra yang beragama Buddha. Pernikahan ini menyatukan dua kekuasaan besar, tetapi juga memicu persaingan terselubung di bidang seni dan budaya.
Menurut pandangan saya pribadi, pembangunan Candi Prambanan memang terlihat seperti “jawaban” Hindu atas kemegahan Candi Borobudur yang telah lebih dulu berdiri. Lokasinya yang hanya berjarak sekitar 19 kilometer memperkuat dugaan ini . Jika Borobudur dibangun sebagai simbol keagungan Buddha Mahayana, maka Prambanan hadir untuk menegaskan kembali dominasi Hindu Saiwa di Jawa Tengah.
Prasasti Siwagrha: Bukti Tertulis yang Tak Terbantahkan
Nama asli kompleks ini sebenarnya bukan Prambanan, melainkan Siwagrha atau Siwalaya. Prasasti Siwagrha yang berangka tahun 856 Masehi menyebutkan bahwa bangunan suci ini didirikan untuk memuliakan dewa Siwa . Dalam bahasa Sanskerta, Siwagrha berarti “Rumah Siwa”, sangat sesuai dengan fungsi utamanya sebagai tempat pemujaan Trimurti.
Prasasti ini juga mengungkapkan detail teknis yang mencengangkan. Saat pembangunan berlangsung, para insinyur kuno melakukan rekayasa hidrologi dengan memindahkan aliran Sungai Opak. Mereka membuat sodetan baru agar sungai tidak terlalu dekat dengan candi dan mengancam konstruksinya . Bayangkan, pada abad ke-9 mereka sudah memiliki pemikiran tentang konservasi bangunan seperti ini!
Peran Para Raja dalam Penyempurnaan Candi
Rakai Pikatan memulai pembangunan, tetapi penyempurnaan dilakukan oleh raja-raja setelahnya. Balitung Maha Sambu, misalnya, memperluas kompleks dengan menambahkan ratusan candi perwara di sekitar candi utama . Beberapa arkeolog bahkan menduga bahwa arca Siwa di ruang utama merupakan perwujudan Raja Balitung sendiri sebagai arca pedharmaan anumerta.
Raja Daksa dan Tulodong juga turut menyempurnakan kompleks ini. Akibatnya, Candi Prambanan tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat kegiatan keagamaan yang ramai. Ratusan brahmana dan murid-muridnya tinggal di pelataran luar untuk mempelajari kitab Weda dan melaksanakan ritual . Sungguh pemandangan yang hidup dan penuh aktivitas di masa lalu.
Arsitektur dan Makna Filosofis Candi Prambanan
Berbicara tentang arsitektur, candi ini memiliki keunikan yang membedakannya dari candi-candi lain di Indonesia. Bentuknya tinggi dan ramping, sangat kontras dengan Borobudur yang megah dan melebar. Ketinggian candi utama mencapai 47 meter, menjadikannya candi Hindu tertinggi di Asia Tenggara .
Konsep Mandala dan Trimurti
Kompleks Candi Prambanan dirancang berdasarkan konsep mandala, yaitu gambaran kosmos dalam kepercayaan Hindu. Terdapat tiga zona utama yang melambangkan tingkatan alam semesta . Zona terluar (Bhurloka) adalah alam fana, zona tengah (Bhuvarloka) adalah alam pemurnian, dan zona terdalam (Svarloka) adalah alam para dewa.
Di zona terdalam, berdiri tiga candi utama yang disebut Trisakti, masing-masing didedikasikan untuk Trimurti:
– Candi Siwa di tengah, sebagai dewa pemusnah
– Candi Brahma di selatan, sebagai dewa pencipta
– Candi Wisnu di utara, sebagai dewa pemelihara
Penempatan Candi Siwa sebagai pusat menunjukkan bahwa aliran Saiwa memang menjadi fokus utama keagamaan di masa itu. Di dalam ruang utama Candi Siwa, bersemayam arca Siwa Mahadewa setinggi tiga meter yang menghadap ke timur .
Relief Ramayana yang Hidup
Salah satu daya tarik utama candi ini adalah relief yang mengelilingi pagar langkan Candi Siwa dan Brahma. Relief ini menceritakan kisah Ramayana, sebuah epos kepahlawanan dari India. Namun, yang menarik adalah versi yang digambarkan di sini sedikit berbeda dengan Kakawin Ramayana versi Jawa Kuno .
Kisahnya berlanjut secara berurutan, seolah-olah kita membaca komik raksasa dari batu. Dimulai dari kelahiran Rama, petualangannya, hingga penculikan Sinta oleh Rahwana. Relief ini tidak hanya indah secara visual, tetapi juga menjadi media pendidikan moral dan keagamaan bagi masyarakat kuno yang mungkin tidak bisa membaca kitab suci.
Legenda Rara Jonggrang: Antara Mitos dan Fakta
Masyarakat lokal lebih mengenal Candi Prambanan dengan sebutan Candi Rara Jonggrang, yang berarti “gadis ramping”. Nama ini merujuk pada arca Durga Mahisasuramardini di bilik utara Candi Siwa . Menurut legenda, arca ini adalah penjelmaan Putri Rara Jonggrang yang dikutuk menjadi batu oleh Bandung Bondowoso.
Kisah ini menarik karena menunjukkan bagaimana masyarakat Jawa memaknai ulang peninggalan Hindu menjadi bagian dari folklor mereka. Secara pribadi, saya melihat legenda ini sebagai bukti bahwa meskipun candi ini pernah ditinggalkan, ingatan kolektif masyarakat tetap terpelihara melalui tradisi lisan. Rara Jonggrang menjadi jembatan antara masa lalu Hindu-Buddha dengan masyarakat Jawa Islam di kemudian hari.
Masa Kegelapan: Ketika Candi Prambanan Ditinggalkan
Sekitar 100 tahun setelah selesai dibangun, tepatnya pada tahun 930-an Masehi, Candi Prambanan mulai ditinggalkan . Perpindahan pusat kekuasaan Kerajaan Medang dari Jawa Tengah ke Jawa Timur oleh Mpu Sindok menjadi penyebab utamanya. Akibatnya, candi ini kehilangan fungsi pentingnya sebagai pusat keagamaan dan politik.
Faktor alam juga turut berperan. Erupsi Gunung Merapi dan gempa bumi yang sering terjadi membuat kawasan ini tidak lagi aman dan nyaman untuk ditinggali . Perlahan-lahan, candi-candi yang megah ini tertutup semak belukar dan pohon-pohon besar. Batu-batunya bergeser, banyak yang runtuh, dan sebagian diambil oleh penduduk untuk digunakan di tempat lain.
Meskipun secara fisik terbengkalai, keberadaan Candi Prambanan tidak pernah benar-benar hilang dari ingatan masyarakat. Babad dan cerita rakyat terus memelihara memori tentang kompleks candi ini. Hal ini terbukti ketika penjelajah Belanda datang, mereka tidak menemukan tempat yang benar-benar baru, melainkan mengonfirmasi apa yang sudah diketahui penduduk setempat.
Penemuan Kembali dan Pemugaran Besar-besaran
Abad ke-19: Awal Penelitian Ilmiah
Pada tahun 1733, seorang pegawai VOC bernama C.A. Lons melaporkan adanya reruntuhan bangunan di sekitar Prambanan . Namun, perhatian serius baru datang pada masa pemerintahan Inggris di Jawa (1811-1816). Thomas Stamford Raffles memerintahkan C. Mackenzie dan G. Baker untuk melakukan survei dan deskripsi terhadap reruntuhan tersebut .
Momen bersejarah terjadi pada Desember 1812. Sultan Hamengku Buwono III, atas undangan Residen John Crawfurd, melakukan kunjungan resmi ke Candi Prambanan dan Candi Sewu. Babad Bedhah ing Ngayogyakarta mencatat peristiwa ini dengan indah . Sang Sultan bahkan memerintahkan pamannya, Pangeran Kusumoyudo, untuk membuat sketsa arca Rara Jonggrang. Ini mungkin merupakan dokumentasi ilmiah pertama yang dilakukan oleh orang Jawa sendiri terhadap warisan leluhurnya.
Pada tahun 1885, J.W. Ijzerman memimpin Archaeologische Vereeniging van Jogja melakukan pembersihan besar-besaran. Mereka menebang pohon dan semak, membersihkan bilik-bilik candi dari reruntuhan . Sayangnya, upaya awal ini tidak selalu dilakukan dengan hati-hati. Groneman bahkan disebut melakukan “pemusnahan” dengan menimbun batu secara sembarangan di sepanjang Sungai Opak .
Abad ke-20: Pemugaran Sistematis
Pemugaran secara ilmiah dan sistematis dimulai pada tahun 1918 oleh Dinas Purbakala (Oudheidkundige Dienst) di bawah pimpinan P.J. Perquin . Mereka menerapkan metode anastylosis, yaitu membongkar, menyusun ulang, dan memasang kembali batu-batu pada tempat aslinya.
Proses ini tidak mudah. Banyak batu asli yang hilang, dicuri, atau digunakan kembali di tempat lain. Pemerintah kolonial kemudian menetapkan aturan ketat: sebuah candi hanya akan dipugar jika minimal 75% batu aslinya masih tersedia . Akibatnya, banyak candi perwara kecil tidak dapat direkonstruksi dan hanya menyisakan fondasinya saja.
Pemugaran Candi Siwa sebagai candi utama selesai pada tahun 1953, melibatkan tenaga ahli Indonesia setelah kemerdekaan . Peresmiannya dilakukan oleh Presiden Soekarno, menandai kebangkitan kembali Candi Prambanan sebagai ikon nasional.
Candi Prambanan di Era Modern
Pengakuan Dunia dan Tantangan Bencana
Pada tahun 1991, UNESCO menetapkan Kompleks Candi Prambanan sebagai Situs Warisan Dunia dengan nomor referensi 642 . Pengakuan ini membawa status istimewa, termasuk perlindungan layaknya dalam keadaan perang. Kini, kompleks ini dikelola oleh PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko bersama dengan Balai Pelestarian Cagar Budaya.
Sayangnya, kebanggaan kita duiji pada 27 Mei 2006. Gempa bumi berkekuatan 5,9 SR melanda Yogyakarta dan sekitarnya, menyebabkan kerusakan parah di Candi Prambanan, terutama Candi Brahma . Banyak batu berserakan, beberapa struktur retak, dan relief-relief berjatuhan. Kerusakan ini mengingatkan kita bahwa warisan budaya, semegah apa pun, tetap rentan terhadap kekuatan alam.
Upaya pemugaran pascagempa dilakukan dengan cepat. Para ahli dari dalam dan luar negeri bahu-membahu mengembalikan candi ke kondisi semula. Pengalaman ini menunjukkan komitmen Indonesia dalam menjaga warisan budaya, sekaligus pentingnya teknologi konservasi modern.
Fungsi Saat Ini: Ibadah, Wisata, dan Seni
Saat ini, Candi Prambanan tidak hanya menjadi objek wisata, tetapi juga tempat yang masih digunakan untuk ibadah umat Hindu, terutama saat perayaan Nyepi . Setiap tahun, ribuan wisatawan domestik dan mancanegara berkunjung untuk menikmati kemegahan arsitektur dan belajar sejarah.
Salah satu daya tarik utama adalah Sendratari Ramayana, pertunjukan tari massal yang digelar di panggung terbuka dengan latar belakang candi yang diterangi lampu. Pertunjukan ini biasanya digelar pada malam bulan purnama, menciptakan atmosfer magis yang sulit dilupakan.
Sebagai penulis yang sering mengunjungi situs bersejarah, saya berpendapat bahwa pengelolaan Candi Prambanan saat ini sudah cukup baik. Namun, edukasi kepada pengunjung tentang nilai sejarah dan pentingnya pelestarian masih perlu ditingkatkan. Jangan sampai kita hanya datang, berfoto, lalu pergi tanpa memahami makna mendalam di balik setiap batu yang tersusun rapi.
Kesimpulan
Perjalanan sejarah Candi Prambanan mengajarkan kita banyak hal. Dari awal pembangunannya yang sarat dengan dinamika politik dan religi, masa kejayaannya sebagai pusat kegiatan keagamaan, masa kelam ketika ditinggalkan dan terlupakan, hingga upaya pemugaran yang membawanya kembali ke puncak kejayaan. Candi ini adalah saksi bisu peradaban yang terus bergerak.
Memahami sejarah Candi Prambanan bukan hanya soal mengetahui tanggal dan nama raja. Lebih dari itu, kita diajak untuk menghargai kerja keras, kecerdasan, dan seni tinggi yang diwariskan oleh nenek moyang. Mereka membangun bukan untuk diri mereka sendiri, tetapi untuk generasi yang akan datang, yaitu kita.
Kini, giliran kita untuk melanjutkan warisan ini. Dengan mengunjungi, mempelajari, dan turut melestarikan Candi Prambanan, kita menjaga agar cerita tentang keagungan masa lalu tidak pernah benar-benar berakhir. Mari kita rawat puing-puing sejarah ini, agar generasi setelah kita juga bisa berkata, “Saya pernah melihat keajaiban yang dibangun seribu tahun yang lalu.






Leave a Reply