PWI JATIM – Memasuki masa puncak musim hujan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda mengeluarkan peringatan dini terkait potensi cuaca ekstrem yang diprakirakan akan melanda Surabaya dan wilayah Jawa Timur pada 11 hingga 20 Februari 2026. Masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai dampak bencana yang mungkin timbul.
Kepala BMKG Juanda, Taufik Hermawan, menjelaskan bahwa peningkatan aktivitas cuaca ini dipicu oleh beberapa faktor dinamika atmosfer. Di antaranya adalah menghambatnya suhu laut di Selat Madura, adanya belokan angin (konvergensi), serta gangguan gelombang atmosfer Low Frequency dan gelombang Rossby.
“Kondisi ini memicu cuaca di Surabaya dan sekitarnya akan lebih aktif. Selain itu, adanya pertemuan angin atau konvergensi dan gangguan gelombang atmosfer Low Frequency dan gelombang Rossby yang turut mendukung potensi cuaca ekstrem tersebut,” ujar Taufik dalam keterangannya, Sabtu (14/2/2026).
Potensi Bencana di Sepuluh Hari ke Depan
BMKG Juanda memprediksi, dalam periode sepuluh hari ke depan, wilayah Jawa Timur berpotensi mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai petir. Tidak hanya itu, fenomena angin kencang, angin puting beliung, hingga hujan es juga berpeluang terjadi di sejumlah titik rawan.
Masyarakat yang tinggal di wilayah dengan topografi curam, bergunung, atau tebing diminta untuk lebih waspada. “Terutamanya masyarakat di wilayah dengan topografi curam, bergunung dan tebing lebih waspada terhadap dampak yang dapat ditimbulkan akibat cuaca ekstrem,” tegas Taufik.
Dampak yang perlu diantisipasi antara lain tanah longsor, banjir bandang, genangan air, pohon tumbang, hingga sambaran petir yang dapat mengancam keselamatan.
Imbauan Keselamatan bagi Masyarakat
Menghadapi potensi cuaca ekstrem ini, BMKG Juanda mengimbau masyarakat untuk mengurangi intensitas aktivitas di luar rumah, terutama jika tidak ada keperluan mendesak. Bagi yang tetap beraktivitas, sejumlah langkah antisipasi perlu dilakukan.
“Pastikan kondisi atap rumah dan saluran air dalam keadaan baik. Segera amankan barang-barang yang mudah terbawa angin,” imbau Taufik.
Ia juga mengingatkan agar masyarakat menghindari berteduh di bawah pohon besar, baliho, atau papan reklame saat terjadi hujan disertai angin kencang. “Di kondisi cuaca ekstrem seperti saat ini, jangan pernah memarkir kendaraan di bawah pohon besar dan hindari melintasi jalan yang tergenang air tinggi,” tambahnya.
Taufik menutup pernyataannya dengan pesan penting tentang kesiapsiagaan individu. “Ingat, kesadaran bencana adalah kesadaran individu. Keselamatan dimulai dari diri kita sendiri,” pungkasnya. (***)










Leave a Reply