PWI JATIM – Tanpa menunggu bantuan pemerintah turun, sekitar 50 warga dari dua desa di Kabupaten Pamekasan kompak membangun jembatan darurat berbahan bambu hanya dalam waktu setengah hari. Mereka adalah warga Desa Rek Kerrek, Kecamatan Palengaan, dan Desa Pangorayan, Kecamatan Proppo. Jembatan utama penghubung antarwilayah itu putus pada Rabu (11/2/2026) dan langsung diganti dengan konstruksi darurat keesokan harinya, Kamis (12/2/2026).
Sekretaris Desa Rek Kerrek, M Hasyim, mengatakan bahwa warga dari dua desa bahu-membahu sejak pagi hingga siang. Mereka memasang puluhan batang bambu di atas bekas beton jembatan yang ambrol.
“Kami mulai membangun jembatan sejak pagi sampai siang ini. Jembatan yang putus kita ganti dengan bambu,” kata Hasyim kepada wartawan, Kamis.
Jembatan darurat sepanjang 10 meter itu memang jauh dari kata sempurna. Hanya kendaraan roda dua dan pejalan kaki yang bisa melintas. Mobil dan truk masih harus mencari jalur alternatif—jika ada.
Namun, bagi warga dua desa, kehadiran titian bambu ini adalah napas kehidupan yang kembali mengalir.
Sejak jembatan utama putus sehari sebelumnya, aktivitas warga lumpuh total. Anak-anak sekolah tak bisa menyeberang. Ibu-ibu kesulitan ke pasar. Pasokan bahan pokok dari luar desa terhenti.
“Meski ini tidak akan bertahan lama, tapi warga kompak demi tetap bisa beraktivitas normal. Sebab, sehari sejak putus, warga kesulitan akses,” ujar Hasyim.
Swadaya Murni, Tanpa Pungutan
Yang menarik, pembangunan jembatan bambu ini murni hasil swadaya warga. Bambu dikumpulkan dari halaman rumah masing-masing. Tenaga dikerahkan secara sukarela. Tak ada iuran, apalagi pungutan.
Polisi dan TNI dari dua kecamatan turun tangan membantu pengaturan lalu lintas dan keamanan selama proses pembangunan. Pemerintah desa setempat juga ikut memobilisasi warga.
“Kami tetap berharap pemerintah segera membangun jembatan permanen. Sebab, ini akses utama warga dan sangat dibutuhkan sebagai jembatan penghubung antar dua kecamatan,” tegas Hasyim.
Jembatan yang putus itu bukan sekadar infrastruktur biasa. Ia adalah urat nadi yang menghubungkan Kecamatan Palengaan dan Proppo. Lewat jembatan ini, hasil bumi warga dibawa ke pasar. Lewat sini pula anak-anak dari kedua desa bersekolah di kecamatan seberang.
Camat: Warga Tak Bisa Menunggu
Camat Palengaan, Muzanni, mengakui bahwa keputusan membangun jembatan bambu diambil karena warga tidak mungkin menunggu proses birokrasi yang panjang.
“Karena warga memang tidak bisa menunggu lama. Akhirnya diputuskan untuk dilakukan pembangunan jembatan sementara dari bambu,” jelasnya.
Muzanni memastikan bahwa koordinasi dengan pemerintah kabupaten sudah berjalan. Pihaknya telah mengusulkan pembuatan Rencana Anggaran Biaya (RAB) untuk pembangunan jembatan permanen. Rencananya, pengerjaan akan dilakukan secara swadaya dengan dukungan dana dari pemerintah daerah.
“Selanjutnya, teknis pekerjaan bisa dilakukan swadaya agar pembangunan lebih cepat dilakukan,” pungkasnya.
Potret Ketangguhan yang Pahit
Jembatan bambu di perbatasan Palengaan dan Proppo ini adalah potret ketangguhan sekaligus ironi. Di satu sisi, solidaritas warga bekerja luar biasa cepat. Di sisi lain, kehadiran jembatan darurat menandakan bahwa infrastruktur vital masih menjadi barang mahal yang mudah rapuh.
Belum diketahui penyebab pasti putusnya jembatan utama. Namun, warga menduga konstruksi yang sudah berusia puluhan tahun tak lagi mampu menahan beban dan deraan cuaca ekstrem beberapa hari terakhir.
Hingga sore hari, jembatan bambu itu mulai dilintasi warga. Satu per satu motor melaju pelan. Anak-anak sekolah menuntun sepeda. Ibu-ibu memanggul keranjang belanjaan.
Semua berjalan hati-hati. Bambu yang licin dan goyah bukan tanpa risiko. Tapi setidaknya, untuk hari ini, dua desa itu kembali tersambung. (***)










Leave a Reply