PWI JATIM – Fenomena migrasi tahunan burung-burung dari belahan Bumi utara kembali terjadi. Ribuan burung asal Rusia dan China terlihat singgah di wilayah Kabupaten Tulungagung dan Trenggalek, Jawa Timur, dalam perjalanan panjang mereka menghindari musim dingin. Kedatangan mereka bukan sekadar pertunjukan visual, melainkan sebuah narasi ketahanan hidup yang kompleks dan dipandu oleh sistem navigasi biologis yang sangat presisi.
Dorongan untuk Bertahan Hidup
Berdasarkan informasi dari Pusat Layanan Sains Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabaya (PLS FIP Unesa), migrasi massal ini dipicu oleh kondisi ekstrem di habitat asal. Ketika musim dingin melanda wilayah utara, sumber daya penting seperti serangga dan buah-buahan menyusut drastis, sementara suhu yang membekukan mengancam kelangsungan hidup. Naluri alamiah kemudian mendorong jutaan burung untuk melakukan eksodus besar-besaran menuju wilayah tropis seperti Indonesia yang menawarkan kehangatan dan kelimpahan pangan.
“Setelah musim dingin berlalu dan musim semi tiba, burung-burung ini akan kembali ke utara untuk berkembang biak dan memanfaatkan sumber daya yang telah tersedia kembali,” jelas keterangan dari laman tersebut. Siklus ini berulang setiap tahun, menciptakan jalur udara lintas benua sepanjang ribuan kilometer.
Misteri Navigasi yang Terpecahkan: Matahari, Bintang, dan Medan Magnet
Pertanyaan kritis sering muncul: bagaimana burung-burung ini, yang sebagian merupakan spesies berukuran kecil, dapat melakukan perjalanan pulang-pergi yang begitu jauh tanpa tersesat? Jawabannya terletak pada perpaduan sistem navigasi canggih yang melekat pada diri mereka.
Penelitian, termasuk yang dirilis oleh National Geographic, mengungkapkan bahwa burung menggunakan kompas alami berupa posisi matahari di siang hari dan pola rasi bintang di malam hari. Jam biologis internal mereka membantu mengoreksi arah seiring pergerakan benda langit tersebut.
Lebih dahsyat lagi, seperti dikutip dari Live Science, burung memiliki kemampuan magnetoresepsi—sebuah kepekaan untuk mendeteksi medan magnet Bumi. Mereka dapat merasakan variasi dalam kemiringan dan intensitas medan magnet planet ini, yang berfungsi sebagai peta global bawaan untuk menentukan arah dan posisi absolut selama migrasi jarak jauh.
Kombinasi antara panduan visual langit dan “indra ke-enam” magnetik inilah yang memungkinkan mereka melintasi lautan, gurun, dan wilayah tanpa penanda visual dengan akurasi yang mencengangkan, serta kembali ke lokasi yang sama setiap tahunnya.
Simpulan: Tontonan Alam yang Sarat Makna
Kehadiran ribuan burung migran di Tulungagung dan Trenggalek adalah lebih dari sekadar peristiwa musiman. Ia adalah pengingat nyata tentang keterhubungan ekosistem global, ketangguhan makhluk hidup, dan misteri alam yang terus digali oleh sains. Fenomena ini menegaskan bahwa perjalanan epik mereka bukanlah penerbangan tanpa arah, melainkan sebuah migrasi terencana yang dijalankan dengan presisi memukau, didorong oleh desakan untuk hidup dan berkembang biak. (***)










Leave a Reply