Kabar jatuhnya sebuah pesawat kembali mengguncang dunia penerbangan nasional. Kali ini, pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport dilaporkan hilang kontak saat melakukan penerbangan dari Yogyakarta menuju Makassar. Tak lama setelah dinyatakan hilang, puing-puing pesawat ditemukan di kawasan puncak Gunung Bulusaraung, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.
Peristiwa ini tentu memunculkan banyak pertanyaan di benak publik. Selain soal kronologi dan penyebab kecelakaan, masyarakat juga mulai penasaran dengan jenis pesawat yang digunakan. Apa sebenarnya pesawat ATR 42-500? Seberapa canggih spesifikasinya, dan untuk kebutuhan apa pesawat ini biasa digunakan?
Agar tidak hanya berfokus pada tragedinya saja, artikel ini akan mengulas secara lengkap tentang pesawat ATR 42-500, mulai dari profil maskapai pemilik, spesifikasi teknis, hingga kisaran harga pesawat ini di pasar global. Semua dikemas dengan bahasa ringan dan mudah dipahami.
Pesawat ATR 42-500 yang Jatuh di Sulawesi Selatan
Pesawat ATR 42-500 yang mengalami kecelakaan diketahui dioperasikan oleh Indonesia Air Transport. Pesawat tersebut dilaporkan hilang kontak pada Sabtu, 17 Januari 2026, saat melintas di wilayah Kabupaten Maros. Proses pencarian kemudian mengarah ke kawasan Gunung Bulusaraung, di mana puing-puing pesawat ditemukan.
Hingga kini, proses evakuasi dan pencarian korban masih terus berlangsung. Tim gabungan dari berbagai instansi dikerahkan mengingat medan pegunungan yang cukup ekstrem dan sulit dijangkau.
Profil Singkat Indonesia Air Transport
Indonesia Air Transport bukan nama baru di dunia aviasi Tanah Air. Maskapai ini telah berdiri sejak tahun 1968 dan dikenal sebagai perusahaan penyedia jasa charter pesawat dan helikopter.
Fokus utama Indonesia Air Transport adalah melayani kebutuhan industri, terutama sektor pertambangan, minyak, dan gas. Operasional penerbangannya mencakup wilayah Indonesia dan kawasan sekitarnya yang sering kali memiliki medan menantang.
Armada yang Dimiliki Indonesia Air Transport
Dalam menjalankan layanannya, Indonesia Air Transport mengoperasikan beberapa jenis pesawat, antara lain:
-
Airbus Helicopter EC 155 B1
-
Embraer Legacy 600
-
ATR 42-500
Keberadaan ATR 42-500 dalam armada ini menunjukkan bahwa pesawat tersebut dirancang untuk kebutuhan penerbangan jarak pendek hingga menengah, khususnya di wilayah dengan bandara terbatas.
Spesifikasi Lengkap Pesawat ATR 42-500
Pesawat ATR 42-500 merupakan salah satu varian modern dari keluarga ATR 42 yang diproduksi oleh ATR, perusahaan patungan antara Airbus dan Leonardo asal Italia. Seri ini dikenal sebagai pesawat turboprop yang andal dan efisien.
Desain dan Teknologi Terbaru
ATR 42-500 disebut sebagai versi produk terkini pada masanya. Pesawat ini mengalami berbagai peningkatan dibandingkan generasi sebelumnya.
Beberapa pembaruan utama meliputi mesin baru, baling-baling generasi terbaru, serta desain kabin yang lebih modern. Selain itu, kapasitas bobot juga ditingkatkan untuk mendukung performa penerbangan yang lebih optimal.
Indonesia Air Transport sendiri menyebutkan bahwa seri ATR 42 mereka terdaftar dalam Program Part by Hour dari Sabena, sebuah program perawatan yang memastikan ketersediaan suku cadang dan pemeliharaan pesawat secara berkala.
Kemampuan Terbang dan Performa
Dari sisi performa, pesawat ATR 42-500 memiliki kemampuan yang cukup impresif untuk kelasnya. Pesawat ini mampu terbang di ketinggian maksimal sekitar 7.720 meter.
Kecepatan jelajahnya mencapai sekitar 556 kilometer per jam, membuatnya ideal untuk rute-rute domestik dengan jarak menengah. Dalam satu kali penerbangan, ATR 42-500 dapat menempuh jarak hingga 2.037 kilometer.
Kemampuan inilah yang menjadikan pesawat ini banyak digunakan untuk rute antarpulau di Indonesia yang memiliki karakteristik geografis beragam.
Kapasitas Penumpang dan Kabin
Pesawat ATR 42-500 dirancang untuk mengangkut hingga 46 penumpang, di luar awak kabin dan kru penerbang. Konfigurasi ini menjadikannya cocok untuk penerbangan charter maupun rute dengan permintaan penumpang terbatas.
Desain kabin yang diperbarui juga memberikan kenyamanan lebih baik dibandingkan seri sebelumnya, meski tetap mengedepankan efisiensi dan fungsi utama sebagai pesawat turboprop.
Dimensi dan Bobot Pesawat
Secara fisik, pesawat ATR 42-500 memiliki dimensi yang cukup kompak namun tangguh.
Panjang badan pesawat mencapai sekitar 22,7 meter dengan bentang sayap sekitar 24,58 meter. Tinggi pesawat berada di kisaran 7,59 meter.
Untuk bobotnya, ATR 42-500 memiliki berat kosong sekitar 11.250 kilogram atau sekitar 11 ton. Bobot ini sudah termasuk struktur utama pesawat tanpa muatan penumpang dan kargo.
Harga Pesawat ATR 42-500 di Pasaran
Harga pesawat ATR 42-500 dapat bervariasi tergantung kondisi, usia, dan konfigurasi. Berdasarkan data dari beberapa situs industri penerbangan, harga pesawat ini cukup beragam.
Untuk unit bekas, harga rata-rata ATR 42-500 berada di kisaran USD 4,5 juta atau sekitar Rp 75 miliar. Sementara itu, untuk unit dengan spesifikasi dan kondisi tertentu, harga bisa mencapai USD 12,1 juta atau setara dengan Rp 200 miliaran.
Perbedaan harga ini biasanya dipengaruhi oleh jam terbang, riwayat perawatan, serta kelengkapan sistem avionik yang digunakan.
ATR 42-500 dan Perannya di Indonesia
Di negara kepulauan seperti Indonesia, pesawat turboprop seperti ATR 42-500 memiliki peran yang sangat penting. Pesawat ini mampu mendarat di bandara dengan landasan pendek dan beroperasi di wilayah dengan infrastruktur terbatas.
Tak heran jika banyak maskapai charter dan regional memilih ATR 42-500 sebagai tulang punggung armada mereka. Efisiensi bahan bakar dan fleksibilitas operasional menjadi nilai tambah utama.
Lebih dari Sekadar Angka Spesifikasi
Insiden jatuhnya pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung tentu menjadi duka mendalam. Namun di balik tragedi tersebut, penting juga untuk memahami karakteristik dan spesifikasi pesawat yang digunakan.
Pesawat ATR 42-500 dikenal sebagai pesawat andal dengan teknologi yang cukup modern untuk kelasnya. Dengan spesifikasi, performa, dan peran pentingnya di dunia penerbangan regional, pesawat ini telah menjadi bagian penting dari konektivitas udara di Indonesia.
Semoga proses pencarian dan evakuasi dapat berjalan lancar, serta kejadian ini menjadi pelajaran berharga untuk meningkatkan keselamatan penerbangan ke depannya.










Leave a Reply