PWI JATIM – Sebanyak 40 siswa di Dusun Lancaran, Desa Palengaan Dajah, Kecamatan Palengaan, Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, terpaksa tidak bersekolah pada Sabtu (17/1/2026). Penyebabnya adalah rusaknya jembatan bambu yang menjadi satu-satunya akses mereka menuju Sekolah Dasar Negeri (SDN) Palengaan Dajah 1.
Jembatan yang merupakan penghubung vital itu dilaporkan rusak sejak Jumat (16/1/2026). Saat ini, perbaikan sedang dilakukan secara swadaya dan gotong royong oleh masyarakat setempat, dengan target selesai pada Minggu (18/1/2026) besok.
“Tadi pagi sekitar 40 siswa SD tidak bisa sekolah. Karena belum bisa melintas di jembatan. Izin tidak sekolah juga dibantu oleh tokoh masyarakat setempat ke pihak sekolah,” ujar salah seorang warga, Moh. Wasil, saat dikonfirmasi.
Wasil memastikan bahwa pembelajaran akan segera normal kembali. “Hanya hari ini siswa tidak bisa sekolah. Besok jembatan bambu akan selesai dan Senin bisa dilewati siswa,” tambahnya.
Akses Tunggal yang Rapuh dan Penuh Risiko
Jembatan bambu ini bukan hanya sekadar jalur pendidikan, melainkan juga urat nadi penghubung ke sejumlah desa lain, termasuk ke Desa Palengaan Laok dan menuju pasar. Wasil menceritakan, alternatif lain dengan melintasi sungai langsung sangat berbahaya, mengingat aliran air bisa mendadak tinggi dan banjir.
“Ini bukan masalah baru. Saat air sungai penuh akibat banjir, semua siswa juga tidak bisa belajar,” jelas Wasil, menyoroti kerentanan akses yang telah berlangsung lama.
Masalah mendasar terungkap: jembatan ini sebenarnya adalah inisiatif swadaya masyarakat yang dibangun secara patungan sejak 2021, setelah jembatan sebelumnya rusak dan tidak kunjung dibangun kembali oleh pemerintah.
Respon Pemerintah: Minim Anggaran, Baru Tahu
Camat Palengaan, Muzanni, mengaku baru mengetahui adanya pembangunan dan perbaikan jembatan secara swadaya tersebut pada hari ini. “Saya tidak mendapatkan laporan dan baru tahu hari ini,” kata Muzanni.
Meski mengakui keterbatasan anggaran, pihak kecamatan berjanji akan menindaklanjuti persoalan ini. “Saat ini kondisi keuangan pemerintah masih minim. Namun pihaknya tetap berupaya untuk menindaklanjutinya,” ujarnya.
Insiden ini menyoroti ketergantungan puluhan keluarga pada infrastruktur darurat yang dibangun sendiri, serta kesenjangan informasi dan respons antara masyarakat akar rumput dengan pemerintah daerah. Kesiapan akses untuk Senin depan masih bergantung pada kesuksesan gotong royong warga, sementara solusi permanen masih menjadi tanda tanya. (***)










Leave a Reply