PWI JATIM – Hujan deras yang mengguyur kawasan Telaga Sarangan selama sekitar lima jam memicu bencana tanah longsor pada Kamis (15/1) dini hari. Material tanah, batu besar, dan pepohonan runtuh menutupi akses jalan di sisi utara telaga yang menjadi ikon wisata Jawa Timur tersebut.
Kejadian berlangsung sekitar pukul 04.00 WIB. Tebing dengan ketinggian lebih dari empat meter di kawasan hutan resort Sarangan itu ambles, mengakibatkan badan jalan sepenuhnya tertutup material longsoran. “Material longsor berupa tanah, pohon bonggol, dan lima batu besar dengan diameter sekitar dua meter sempat menutup hingga 100 persen badan jalan,” jelas Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik (Kasi Darlog) BPBD Kabupaten Magetan, Eka Wahyudi.
Petugas gabungan dari Perhutani dan BPBD langsung diterjunkan ke lokasi. Dengan menggunakan alat berat eskavator, mereka bekerja membersihkan material untuk membuka akses jalan. Sebuah batu berdiameter hampir dua meter menjadi tantangan terbesar dan sempat dipinggirkan sementara waktu. “Rencananya kita pecah dulu baru dipindahkan,” kata Kepala Resor Pemangku Hutan (KRPH) Sarangan, Supriyanto.
Hingga siang hari, upaya pembersihan membuahkan hasil. Akses jalan telah dapat dilalui kendaraan kembali. Untungnya, dalam kejadian ini tidak ada korban jiwa yang dilaporkan.
Namun, peristiwa ini mencuatkan kekhawatiran akan kerawanan longsor di kawasan wisata tersebut. Menanggapi hal ini, BPBD Magetan akan melakukan koordinasi intensif dengan berbagai pihak terkait, termasuk Dinas Pekerjaan Umum, BBWS Bengawan Solo, Perhutani, dan Dinas Pariwisata.
“Koordinasi dilakukan terkait upaya mitigasi struktural, seperti perkuatan tebing dan analisis kedalaman di kawasan rawan longsor,” jelas Eka Wahyudi. Langkah non-struktural juga akan ditingkatkan, seperti pemasangan rambu peringatan dan sosialisasi kepada pelaku usaha serta wisatawan.
BPBD mengimbau masyarakat, khususnya di wilayah rawan, untuk meningkatkan kewaspadaan. Tanda-tanda seperti retakan tanah, pohon atau tiang yang mulai miring, air keruh keluar dari celah tanah, atau suara gemuruh dari lereng harus diwaspadai. Masyarakat juga diminta menghindari aktivitas di sekitar lereng terjal selama dan setelah hujan deras.
Kejadian ini menjadi pengingat akan pentingnya mitigasi bencana di kawasan objek wisata yang berpotensi terdampak cuaca ekstrem, guna menjamin keselamatan pengunjung dan kelancaran aksesibilitas. (***)










Leave a Reply