Kenapa scrolling medsos bikin kita capek? Itu pertanyaan yang sering muncul setelah kita habiskan waktu berjam-jam di Instagram, TikTok, atau X. Padahal, kita hanya duduk diam sambil gerakkan jempol. Tapi, kok, badan lelah, mata perih, dan pikiran jadi berat? Sebagai penulis yang juga pernah kecanduan media digital, saya merasakan betul fenomena ini.
Scrolling media sosial yang seharusnya jadi hiburan, justru sering berakhir jadi aktivitas yang menguras energi. Ternyata, ada alasan ilmiah kuat di balik rasa lelah itu, dan memahami penyebabnya adalah langkah pertama untuk mengambil kembali kendali.
Penjelasan Sains di Balik Lelahnya Scroll Medsos
Rasa lelah setelah scroll medsos bukan sekadar perasaan. Otak kita bekerja sangat keras selama aktivitas ini, dan ada beberapa faktor yang menjadi penyebab utamanya.
Informasi Overload
Bayangkan otak kita seperti gelas. Setiap kali kita scroll, kita menuangkan informasi ke dalamnya. Sebuah video lucu, kabar buruk, iklan menarik, status teman yang galau, tutorial makeup, berita politik—semua masuk berurutan dan sangat cepat. Otak kita harus memproses, menyaring, dan mencerna semua informasi ini dalam hitungan detik. Ini disebut cognitive load, dan bebannya sangat berat.
Dalam satu jam scrolling, otak mungkin sudah mencerna ratusan potong informasi yang tidak saling berhubungan. Akibatnya, kita mengalami informasi overload. Otak menjadi lelah karena terus-menerus dipaksa untuk beralih konteks dengan cepat. Penelitian menunjukkan bahwa multitasking digital seperti ini justru mengurangi produktivitas dan meningkatkan kelelahan mental. Bukan karena kita bodoh, tapi karena desain platformnya yang memang membuat kita ingin terus scroll.
Dopamin Rollercoaster
Ini adalah mekanisme utama yang membuat scrolling medsos begitu adiktif dan sekaligus melelahkan. Setiap kali kita menemukan konten menarik—lucu, menginspirasi, atau yang cocok dengan minat kita—otak melepaskan sedikit dopamin, zat kimia yang membuat kita senang dan termotivasi.
Masalahnya, tidak setiap scroll memberikan hadiah itu. Kita harus melewati banyak konten yang biasa saja atau tidak menarik untuk menemukan satu konten yang “nendang”. Ini menciptakan pola anticipation-reward yang tidak menentu. Layaknya bermain mesin slot, kita terus scroll (tarik tuas) dengan harapan dapat hadiah (dopamin). Siklus naik-turun dopamin ini sangat menguras energi mental dan emosional, yang membuat kita merasa kosong dan lelah setelahnya.
Cahaya Biru dan Ketegangan Mata Digital
Faktor fisik juga sangat berperan. Layar hp memancarkan cahaya biru yang dapat menekan produksi melatonin, hormon yang mengatur tidur. Saat kita scroll medsos di malam hari, terutama di tempat gelap, otak kita bingung. Dia mendapat sinyal bahwa ini masih siang, sehingga kita tetap terjaga dan ritme sirkadian terganggu. Akhirnya, kita sulit tidur nyenyak.
Selain itu, aktivitas scrolling membuat mata kita terkunci pada jarak yang sama (sekitar 30 cm) untuk waktu lama. Otot mata menjadi tegang dan kering karena frekuensi berkedip berkurang drastis. Kondisi ini disebut digital eye strain, dengan gejala mata perih, pandangan kabur, dan sakit kepala. Rasa lelah di mata ini dengan cepat menyebar ke seluruh tubuh.
Dampak Psikologis yang Memperparah Rasa Lelah
Tidak hanya fisik, kesehatan mental kita juga terkena dampak dari kebiasaan scroll yang tak terkendali. Efek psikologis ini seringkali lebih halus tapi dampaknya dalam.
Social Comparison yang Tak Pernah Berhenti
Setiap kali kita scrolling media sosial, kita seringkali tidak sedang melihat kehidupan yang utuh. Kita melihat highlight reel orang lain: liburan mewah, pencapaian karier, hubungan romantis yang sempurna. Tanpa sadar, otak kita mulai membandingkan. “Mengapa hidup mereka terlihat lebih baik?” “Apa yang salah dengan saya?”
Proses social comparison ini adalah beban mental yang sangat berat. Dia memicu perasaan tidak cukup, cemas, dan iri. Semua emosi negatif ini menguras energi psikologis kita. Yang paling parah, perbandingan ini seringkali tidak adil karena kita membandingkan backend kehidupan kita yang berantakan dengan frontend kehidupan orang lain yang sudah diedit sedemikian rupa.
Fear of Missing Out (FOMO) yang Konstan
Scrolling medsos membuat kita terjebak dalam siklus FOMO. Kita takut ketinggalan kabar terbaru, tren terkini, atau percakapan seru. Jadi, kita terus scroll tanpa henti. Kecemasan ini—rasa bahwa sesuatu yang penting sedang terjadi di tempat lain—menciptakan tekanan konstan. Otak kita selalu dalam kondisi siaga, yang tentu saja sangat melelahkan.
Parahnya, platform dirancang untuk memperburuk FOMO ini. Fitur seperti “Stories” yang hilang dalam 24 jam atau trending topic di Twitter sengaja diciptakan untuk membuat kita merasa perlu selalu mengecek. Kita menjadi budak dari ketakutan sendiri.
Kurangnya Interaksi Bermakna
Apa bedanya ngobrol empat jam dengan sahabat baik dan scroll medsos empat jam? Yang pertama mengisi ulang energi, yang kedua mengurasnya. Scrolling adalah aktivitas pasif dan satu arah. Kita mengonsumsi, tapi jarang menciptakan atau terhubung secara mendalam.
Interaksi di kolom komentar pun seringkali dangkal dan penuh performa. Kita kehilangan kedalaman hubungan manusiawi yang sebenarnya memulihkan energi. Otak dan hati kita rindu akan koneksi nyata, bukan sekadar likes dan views. Kekosongan inilah yang kemudian terasa sebagai kelelahan emosional.
Tanda-Tanda Anda Sudah Terlalu Lelah karena Medsos
Bagaimana membedakan rasa lelah biasa dengan kelelahan akibat scrolling medsos? Kenali tanda-tandanya.
- Lelah Mental Setelah Scroll: Anda merasa pusing, sulit berkonsentrasi, atau pikiran kosong setelah menghabiskan waktu di Instagram atau TikTok.
- Mood Swing: Perasaan Anda mudah berubah setelah melihat medsos. Dari biasa saja, tiba-tiba cemas atau sedih tanpa alasan yang jelas.
- Susah Tidur: Meski mata lelah, pikiran tetap racing tentang berbagai hal yang Anda lihat di medsos. Anda sulit mematikan otak.
- Merasa Tidak Produktif: Ada rasa bersalah dan waktu terbuang percuma setelah sesi scrolling panjang, meski awalnya Anda hanya ingin istirahat sebentar.
- Iritasi Sosial: Anda menjadi lebih mudah marah atau tidak sabar dengan orang di sekitar Anda setelah asyik dengan dunia maya.
Strategi Jitu untuk Mengurangi Lelah Akibat Scrolling
Mengatasi masalah ini bukan berarti harus menghapus semua akun medsos. Tapi, kita perlu lebih cerdas dan sadar dalam menggunakannya. Berikut strategi yang bisa diterapkan.
Lakukan Digital Detox yang Terukur
Cobalah untuk tidak mengakses medsos sama sekali di waktu-waktu tertentu. Mulailah dengan hal kecil.
- Jam Pertama Setelah Bangun Tidur: Jangan pegang hp dulu. Beri otak waktu untuk bangun dengan tenang tanpa banjir informasi.
- Satu Jam Sebelum Tidur: Matikan semua notifikasi dan jauhkan hp dari tempat tidur. Ganti dengan membaca buku atau mendengarkan musik.
- Satu Hari dalam Seminggu: Pilih satu hari (misal, Minggu) sebagai hari bebas medsos. Isi dengan hobi offline atau berkumpul dengan keluarga.
Ubah Pola Konsumsi
Alih-alih hanya scroll tanpa tujuan, coba gunakan medsos dengan lebih aktif dan sengaja.
- Tetapkan Misi: Sebelum buka aplikasi, tanyakan, “Saya mau cari apa?” Misalnya, “Saya mau cari resep makan malam” atau “Saya mau lihat kabar saudara di luar kota.” Setelah dapat, langsung keluar.
- Batasi Waktu: Gunakan fitur Digital Wellbeing (Android) atau Screen Time (iOS) untuk memberi batas waktu harian untuk setiap aplikasi medsos. Saat waktu habis, aplikasi akan terkunci.
- Bersihkan Feed: Unfollow atau mute akun-akun yang memicu perbandingan sosial, kecemasan, atau emosi negatif. Penuhi feed Anda hanya dengan konten yang benar-benar menginspirasi, mengedukasi, atau menghibur secara sehat.
Rawat Kesehatan Fisik dan Mental
Berikan perlawanan dari dalam.
- Atur Pencahayaan: Aktifkan Night Light atau Blue Light Filter di pengaturan hp Anda. Ini akan mengurangi paparan cahaya biru, terutama di malam hari.
- Ikuti Aturan 20-20-20: Setiap 20 menit menatap layar, alihkan pandangan ke objek yang berjarak 20 kaki (6 meter) selama 20 detik. Ini akan mengistirahatkan otot mata Anda.
- Meditasi Singkat: Saat merasa mulai lelah karena scroll, tutup aplikasinya. Tarik napas dalam 10 kali. Fokuskan pada hembusan napas. Latihan kecil ini bisa “reset” pikiran yang kewalahan.
- Ganti dengan Aktivitas Memulihkan: Saat ada dorongan untuk scroll, coba ganti dengan aktivitas lain yang lebih memulihkan energi. Berjalan kaki sebentar, minum air putih, ngobrol dengan teman sekantor, atau sekadar merenggangkan badan.
Kesimpulan
Jadi, kenapa scrolling medsos bikin capek? Jawabannya ada pada desain platform yang membanjiri otak kita dengan informasi, menjebak kita dalam siklus dopamin yang tidak sehat, dan memicu tekanan psikologis seperti perbandingan sosial serta FOMO. Kelelahan itu nyata, baik secara fisik maupun mental.
Namun, kabar baiknya: kita tidak harus pasrah. Dengan memahami mekanisme di balik layar, kita bisa mengambil langkah proaktif untuk melindungi energi dan perhatian kita. Mulailah dengan kesadaran. Perhatikan bagaimana perasaan Anda sebelum, selama, dan setelah scrolling media sosial.
Medsos hanyalah alat. Dia seharusnya melayani kita, bukan sebaliknya. Dengan menetapkan batasan, mengubah pola konsumsi, dan merawat diri sendiri, kita bisa tetap terhubung tanpa harus merasa terkuras habis. Hidup terjadi di sini dan sekarang, di antara setiap scroll. Mari kita hadir sepenuhnya untuk momen itu.










Leave a Reply