PWI JATIM – Kota Surabaya dilanda banjir di puluhan titik pada Minggu malam (4/1/2026), menyusul hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur kota pahlawan tersebut berjam-jam lamanya. Genangan air mengganggu lalu lintas, merendam rumah warga, dan menyebabkan sejumlah kendaraan roda dua mogok di tengah jalan.
Kawasan yang terdampak parah antara lain Jalan Raya Dukuh Kupang Baru, Simo Kalangan, Ketintang Telkom, Dukuh Kupang Timur, Tengger Kandangan, dan Simo Hilir dekat bozem. Di wilayah Simo, ketinggian air dilaporkan mencapai 30 sentimeter, menyebabkan jalan lumpuh total dan kendaraan sulit melintas.
Ahli ITS Soroti Masalah Drainase dan Tata Ruang
Menyikapi kejadian ini, Pakar Tata Kota dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Dr. Putu Gde Ariastita, menyatakan bahwa akar permasalahan banjir di Surabaya tidak lepas dari sistem drainase yang tidak optimal dalam menanggapi volume hujan yang tinggi dan durasi lama.
“Secara mikro di kawasan terdampak kemungkinan ada saluran drainase yang tidak optimal bekerja dengan volume hujan yang relatif tinggi dan lama,” jelas Ariastita kepada Kompas.com, Senin (5/1).
Ariastita memaparkan beberapa faktor kompleks penyebab banjir:
1. Aliran Drainase yang Tertahan: Surabaya Barat, sebagai daerah hulu, secara alami mengalirkan air ke arah utara dan timur (hilir). Namun, aliran ini sering tertahan di tengah jalan akibat kapasitas drainase yang tidak memadai dan minimnya daerah resapan. “Logikanya masuk, aliran drainase kita ke utara dan ke timur. Artinya aliran tersebut tertahan oleh faktor drainase, resapan yang kurang,” ujarnya.
2. Pembangunan Masif dan Minim Resapan: Maraknya pembangunan fisik di kota menghambat sistem drainase yang ada dan mengurangi area resapan air tanah. “Walaupun ada drainase tapi tetap saja menimbulkan penumpukan akan menimbulkan genangan air di daerah tengah dan barat,” sambungnya.
3. Topografi Datar dan Pengaruh Pasang Laut: Kondisi geografis Surabaya yang datar membuat air mengalir lambat. Faktor ini diperparah ketika laut pasang, yang menghambat aliran air dari darat ke laut dan berpotensi menyebabkan banjir rob yang merangsek ke pemukiman.
4. Dampak Deforestasi di Hulu: Ariastita juga menyoroti pengaruh berkurangnya daerah resapan di kawasan hulu Sungai Brantas. Kombinasi hujan lama di hulu dan laut pasang disebutnya sebagai “ancaman serius” yang memperparah banjir di Surabaya.
Sampah Bukan Faktor Utama
Berbeda dengan anggapan umum, Ariastita menilai sampah tidak menjadi penyebab signifikan banjir kali ini. “Mungkin ada pengaruhnya tapi tidak begitu signifikan. Pengelolaan sampah di Surabaya cukup baik, yang sangat signifikan adalah kondisi topografi Surabaya yang sangat datar,” pungkasnya.
Ia menekankan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap tata ruang kota, kecukupan ruang terbuka hijau, dan daerah resapan untuk mitigasi banjir jangka panjang. Banjir yang melumpuhkan ini kembali mengingatkan akan kerentanan kota metropolitan terhadap perubahan iklim yang memicu cuaca ekstrem dan urgensi perbaikan infrastruktur drainase secara komprehensif. (***)










Leave a Reply