Sumut – Jumlah korban meninggal akibat rangkaian bencana alam yang melanda wilayah Sumatera kembali bertambah. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat hingga akhir Desember 2025, total korban jiwa mencapai 1.154 orang. Angka ini meningkat dibandingkan laporan sebelumnya, seiring proses pendataan dan evakuasi yang masih berlangsung di sejumlah daerah terdampak.
Pemerintah menyampaikan duka cita mendalam kepada seluruh keluarga korban. Di sisi lain, upaya pencarian korban hilang dan penanganan pengungsi terus dilakukan secara intensif oleh tim gabungan.
Update Data Korban dari BNPB
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menjelaskan bahwa peningkatan jumlah korban meninggal terjadi setelah tim menemukan jasad korban di beberapa lokasi permukiman dan aliran sungai.
Menurutnya, proses verifikasi data dilakukan secara berlapis. Oleh karena itu, pembaruan angka korban memerlukan waktu agar tetap akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.
Selain korban meninggal, BNPB juga mencatat masih terdapat ratusan orang yang dinyatakan hilang. Tim SAR gabungan masih bekerja di tengah keterbatasan cuaca dan medan yang sulit.
Berdasarkan laporan resmi BNPB, dampak bencana paling besar terjadi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Ketiga wilayah tersebut mengalami kombinasi bencana hidrometeorologi, seperti banjir besar dan tanah longsor.
Di Aceh, jumlah korban meninggal tercatat paling tinggi. Sementara itu, Sumatera Utara dan Sumatera Barat menyusul dengan angka korban yang juga signifikan. Selain korban jiwa, puluhan ribu warga terpaksa mengungsi akibat rumah mereka rusak atau terendam banjir.
Hingga kini, operasi pencarian dan pertolongan (SAR) belum dihentikan. Tim SAR gabungan yang terdiri dari Basarnas, TNI, Polri, serta relawan lokal terus menyisir wilayah terdampak.
Namun demikian, proses pencarian tidak berjalan mudah. Curah hujan yang masih tinggi kerap menghambat pergerakan tim di lapangan. Selain itu, kondisi tanah yang labil meningkatkan risiko longsor susulan.
Tantangan di Lapangan
Beberapa tantangan utama yang dihadapi tim SAR antara lain:
-
Akses jalan terputus akibat longsor
-
Arus sungai yang deras setelah hujan
-
Jarak pandang terbatas karena cuaca buruk
Meski begitu, Abdul Muhari menegaskan bahwa semangat petugas tidak surut. Seluruh tim tetap berupaya maksimal demi menemukan korban yang masih hilang.
Kondisi Pengungsi dan Kebutuhan Mendesak
Selain korban jiwa, bencana ini juga menyebabkan ratusan ribu warga mengungsi. Mereka tersebar di berbagai pos pengungsian sementara yang didirikan pemerintah daerah bersama BNPB.
Kebutuhan mendesak para pengungsi meliputi:
-
Logistik makanan siap saji
-
Air bersih
-
Obat-obatan
-
Selimut dan tenda darurat
Pemerintah pusat telah menyalurkan bantuan tahap awal. Namun, distribusi bantuan masih menghadapi kendala di wilayah terpencil.
Pemerintah daerah diminta lebih aktif melakukan pendataan kebutuhan warganya. Dengan data yang akurat, bantuan diharapkan dapat tersalurkan secara tepat sasaran.
BNPB juga mengingatkan pentingnya koordinasi lintas sektor agar penanganan bencana berjalan efektif dan tidak tumpang tindih.
Di tengah situasi darurat ini, BNPB mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi bencana susulan. Musim hujan yang masih berlangsung meningkatkan risiko banjir dan longsor di sejumlah wilayah Sumatera.
Masyarakat yang tinggal di daerah rawan diminta segera mengungsi apabila melihat tanda-tanda bahaya. Selain itu, informasi resmi dari pemerintah harus dijadikan rujukan utama.
Edukasi Mitigasi Bencana
BNPB menekankan bahwa mitigasi bencana tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Kesadaran masyarakat memegang peran penting dalam mengurangi risiko korban.
Langkah sederhana, seperti mengenali jalur evakuasi dan mengikuti arahan petugas, dapat menyelamatkan banyak nyawa.
Pemerintah memastikan penanganan bencana di Sumatera akan terus dilakukan hingga kondisi benar-benar pulih. Fokus tidak hanya pada fase tanggap darurat, tetapi juga pemulihan jangka panjang.
Rehabilitasi infrastruktur dan pemulihan ekonomi warga terdampak menjadi agenda lanjutan setelah masa darurat berakhir.
Dengan bertambahnya jumlah korban menjadi 1.154 jiwa, tragedi ini menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan bencana harus terus diperkuat. Kolaborasi antara pemerintah, aparat, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam menghadapi bencana alam di masa mendatang.










Leave a Reply