PWI JATIM – Kota Pasuruan, Jawa Timur, mencatat kenaikan signifikan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) sepanjang tahun 2025. Berdasarkan data Dinas Kesehatan setempat, jumlah kasus hingga penghujung tahun ini mencapai 492 kasus, atau mengalami lonjakan sebesar 134% dibanding periode yang sama tahun 2024 yang tercatat 210 kasus.
Meski peningkatan drastis terjadi, otoritas kesehatan menyatakan bahwa semua pasien telah tertangani dengan baik. “Memang temuan kami tahun ini lebih tinggi dibanding tahun lalu. Namun tidak ada yang sampai meninggal, semua mendapat penanganan dengan baik,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Kota Pasuruan, Shierly Marlena, Jumat (26/12).
Perubahan Iklim dan Perilaku Jadi Pemicu Utama
Shierly menjelaskan, faktor dominan di balik lonjakan kasus adalah perubahan cuaca ekstrem yang memengaruhi ketahanan tubuh manusia dan mempercepat siklus hidup nyamuk Aedes aegypti. Intensitas hujan tinggi yang menciptakan genangan air, diikuti cuaca hangat dan lembap, menjadi kondisi ideal bagi perkembangbiakan vektor penyakit tersebut.
“Perubahan iklim global yang mempercepat siklus hidup nyamuk. Kemudian ditambah mobilitas manusia menyebarkan virus. Hampir se-Indonesia peningkatan kasus yang sama,” tambahnya.
Selain faktor alam, rendahnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan turut memperparah situasi. Sanitasi yang buruk di pemukiman padat, banyaknya genangan air, serta minimnya pelaksanaan gerakan 3M Plus (Menguras, Menutup, Mendaur Ulang) dinilai sebagai penyebab lokal yang perlu segera diatasi.
Imbauan Pencegahan dan Pemberantasan Sarang Nyamuk
Untuk menekan laju penularan, Dinkes Kota Pasuruan menggalakkan Gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) secara masif dan berkelanjutan. Masyarakat diimbau untuk aktif membersihkan lingkungan, menguras penampungan air, menaburkan larvasida, serta menggunakan kelambu atau lotion anti nyamuk.
“Selain itu juga bisa menaburkan larvasida ke penampungan air atau menggunakan lotion anti nyamuk atau memakai pakaian lengan panjang dan celana panjang. Tak lupa pula merawat tanaman yang bisa menjadi tempat perindukan jentik nyamuk,” pungkas Shierly.
Dengan prediksi cuaca ekstrem yang masih berlanjut, Dinkes mengingatkan bahwa pencegahan DBD merupakan tanggung jawab kolektif. Kerja sama antara pemerintah dan masyarakat dalam memutus mata rantai perkembangbiakan nyamuk dinilai kunci untuk mencegah kejadian luar biasa (KLB) di masa mendatang. (***)










Leave a Reply