PWI JATIM – Gelombang tinggi dan hujan lebat yang melanda perairan utara Jawa Timur memaksa ratusan nelayan di sepanjang pesisir utara (Pantura) Kabupaten Bangkalan untuk menghentikan aktivitas melaut sejak sepekan terakhir. Cuaca ekstrem ini dinilai membahayakan keselamatan, terutama bagi nelayan dengan perahu kecil.
Bilal Kurniawan, nelayan asal Kecamatan Arosbaya, mengaku bersama puluhan rekannya memutuskan untuk tidak melaut demi menghindari risiko. “Kondisi saat ini sangat berpengaruh bagi kami. Banyak nelayan yang tidak melaut karena kondisi cuaca yang ekstrem dan membahayakan keselamatan nelayan,” ujarnya, Rabu (24/12).
Menurut Bilal, mayoritas nelayan yang terdampak adalah pemilik perahu berukuran kecil yang tidak memadai untuk menghadapi gelombang tinggi. Sementara itu, nelayan dengan kapal yang lebih besar masih berupaya melaut meski dengan risiko tinggi. “Mayoritas ini perahu kecil. Kalaupun ada yang maksa keluar melaut itu perahu yang agak besar dan nelayan yang berani berisiko,” imbuhnya.
Dampak serupa dilaporkan terjadi secara merata di sepanjang Pantura Bangkalan, meliputi Kecamatan Socah, Bandaran, Klampis, hingga Tanjung Bumi. Diperkirakan, ratusan kepala keluarga yang menggantungkan hidupnya dari laut kini terpaksa menganggur.
“Semuanya hampir sama tidak bisa melaut. Kalau jumlahnya di sepanjang pantura itu bisa ratusan. Kalau di Arosbaya saja ada puluhan yang terdampak,” jelas Bilal.
Rosid, nelayan asal Kecamatan Klampis, menambahkan bahwa selain faktor keselamatan, kondisi laut yang buruk juga membuat hasil tangkapan nyaris nihil. “Kemarin ada yang berangkat dua perahu, tapi hasilnya nihil. Sangat sedikit ikannya. Jadi saat ini masih tiarap semua sampai kondisi stabil,” ujarnya.
Peringatan BMKG Hingga Akhir Tahun
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bangkalan, M Zainul Qomar, mengonfirmasi bahwa cuaca ekstrem diprediksi masih akan berlangsung. Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), potensi cuaca buruk diperkirakan bertahan hingga 31 Desember 2025.
“Kalau dari informasi BMKG, hingga 31 Desember di Bangkalan ini masih berpotensi terjadi cuaca ekstrem. Kami imbau masyarakat berhati-hati, terutama bagi nelayan. Kami harap masyarakat mengutamakan keselamatan,” pungkas Zainul.
Kondisi ini tidak hanya mengancam keselamatan jiwa tetapi juga berpotensi memicu penurunan pasokan ikan di pasaran dan tekanan ekonomi bagi ratusan keluarga nelayan di Bangkalan, mengingat periode akhir tahun biasanya menjadi masa panen ikan yang penting. (***)










Leave a Reply